Sosok  

Biografi Megawati Sukarnoputeri: Semangat Perjuangan, Kerja Keras dan Gotong Royong

KABARINDAH.COM – Kiprah politik Megawati banyak dipengaruhi semangat perjuangan bapaknya sebagai presiden RI. Slogan “merdeka” selalu dibenamkan di hatinya. Mega pun menjalani kehidupannya dengan penuh perjuangan untuk mencapai kata merdeka yang sesungguhnya.

Ia pun terpilih sebagai presiden RI melalui PDI Perjuangan. Tak hanya itu, Megawati juga berhasil mengantarkan kader-kadernya untuk menjadi bupati, walikota, gubernur, bahkan hingga presiden.

Terakhir, ia memang berhasil mengantarkan kadernya Joko Widodo untuk menjadi presiden. Joko Wiodo-Jusuf Kalla yang diusung oleh PDIP berhasil menduduki sebagai Presiden dan wakil Presiden periode 2014-2019.

Semua itu dilakukan dengan perjuangan, kerja keras, dan gotong royong yang selalu diingatkan oleh Megawati. Megawati sudah memegang nilai-nilai tersebut dari ajaran ayahnya. Dialah anak yang mengikuti penuh jejak sang ayah.

Nama panjangnya Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri. Ia lebih sering dipanggil Mega. Mega lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947 dari pasangan Soekarno dan Fatmawati. Mega adalah anak kedua dari Presiden pertama Indonesia.

Kisah pernikahan Mega cukup panjang. Dia menikah tiga kali dalam usia terbilang muda. Pernikahan pertama pada tahun 1968 , dalam usia 21 tahun, dengan seorang pilot letnan satu (penerbang) Surindro Supjarso. Dari pernikahannya ini dikaruniai dua orang anak laki-laki. Suaminya gugur saat menjalankan tugas.

Baca Juga:  Kunci Kesuksesan Ina Wiyandini Bangun Bisnis Panganan Ina Cookies

Mega kembali menikah dengan seorang diplomat asal mesir bernama Hassan Gamal Ahmad Hasan, 1972, dalam usia 25 tahun. Pernikahan ini tidak bertahan lama dan tidak memiliki anak.

Pada tahun 1973, usia 26 tahun, Mega kembali menikah dengan Taufik Kiemas dan dari pernikahannya ini dikaruniai satu orang anak perempuan, Puan Maharani.

Mega kecil terbilang istimewa. Hidupnya dalam suasana kemerdekaan Republik Indonesia. Lebih spesial lagi orang tuanya, Soekarno adalah presiden RI pertama dan tinggal di Istana Presiden.

Pada umur 7 tahun, seperti anak-anak lain, Mega masuk sekolah dasar. Sekolah Dasar hingga SMA diselesaikan di Perguruan Cikini, Jakarta. Pada usia 18 tahun dia lulus SMA.

Setelah lulus SMA, Mega kuliah di Fakultas Pertanian Unpad, Bandung. Di sini tidak bertahan lama, sekitar setahun antara tahun 1965-1967, karena situasi politik nasional saat itu sedang memanas.

Pada tahun 1967 adalah masa terakhir kepresiden bapaknya. Tiga tahun tidak aktif kuliah, bukan berarti dia berdiam diri. Dia tetap aktif di organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Baca Juga:  Imam Ath-Thabari, Ulama Shaleh dan Zuhud Wakafkan Hidupnya untuk Ilmu

Setelah kondisi politik agak normal, Mega kembali masuk kuliah di Fakultas Psikologi UI, tapi tidak sampai tuntas. Pada tahun-tahun ini adalah tahun duka keluarga besar Soekarno. Pada tahun 1970, bapaknya meninggal dunia saat Mega berusia 23 tahun.

Mega bisa dibilang sebagai titisan bapaknya. Menindak lanjuti perjuangan bapaknya, saat aktif di GMNI, dia terjun ke partai politik. Pada usia 39 tahun ia menjadi pengurus PDI Jakarta Pusat pada tahun 1986. Setahun kemudian, dia menjadi anggota DPR RI 1987-1992.

Karier politiknya semakin kuat setelah setahun kemudian dalam kongres PDI, 22 Desember 1993, dia terpilih menjadi Ketua Umum PDI 1993-1998.

Semasa kepemimpinannya banyak penekanan dari penguasa Presiden Soeharto. PDI terbecah belah dengan kepemimpinan Mega dan Soerjadi. Puncaknya bentrok fisik perubatan kantor PDI di Jalan Diponegoro yang berujung peristiwa 27 Juli 1996 kelabu yang memicu kerusuhan di Jakarta.

Sehubungan ada kedua pimpinan PDI, PDI kelompok Mega melakukan kongres PDI sekaligus mengganti nama PDI menjadi PDI Perjuangan, pada tahun 1998, dan menjadi Ketua Umum PDIP 1998-2000. Sejak itu, Mega menjadi ketua umum PDIP berturut-turut untuk periode 2000-2005, 2005-2010, 2010-2015, dan 2015-2020.

Baca Juga:  Biografi Soekarno, Tokoh Nasional yang Ditakuti Amerika Serikat

Pada pemilu 1999, awal Era Reformasi, PDIP memenangkan pemilu. Meski pemenang pemilu, Mega dalam pemilihan presiden lewat MPR kalah suara oleh Abdurrahman Wahid. Presiden Abdurrahman hanya bertahan dari 1999-2001. Mega yang waktu itu sebagai Wapres menggantikannya menjadi Presiden periode 2001-2004.

Pada Pilpres berikutnya 2004 dan 2009, dalam situs laman KPU, Mega maju kembali menjadi calon presiden tapi belum berhasil. Mega tidak putus asa. Dia tetap berjuang lewat partainya dan perwakilannya di DPR sebagai oposisi pemerintah.

Pada Pemilu 2014, Mega berjuang kembali, kali ini, dengan mencalonkan kader partai PDIP Joko Widodo sebagai capres 2014. Hasil kerja kerasnya menuai hasil. Capresnya terpilih sebagai presiden masa bakti 2014-2019.

Sukses mengantarkan kadernya bukan berarti tinggal diam. Mega tetap berjuang mengawal pemerintah bersama PDI Perjuangan. Mega mengajak “Mari Berjuang Untuk Kesejahteraan Rakyat”. Begitu tagline PDI Perjuangan saat berkuasa ini.