Beragama dengan Seimbang

KABARINDAH.COM, Bandung — Dalam bahasa Arab, moderat memiliki ragam makna, seperti wasathiyyah, tawazun, dan ta’adul. Semua arti ini menunjukkan makna keseimbangan yang terjadi di antara dua ujung yang saling bertentangan.

Tidak mengambil salah satunya atau membuang salah satunya lebih banyak dari yang lain. Mengambil posisi di tengah sehingga membuat keadaan menjadi seimbang.

Wakil Dekan Fakultas Agama Islam UM Bandung Cecep Taufikurrohman mencotohkan beberapa istilah yang saling bertentangan seperti nilai-nilai ketuhanan (al-rabbaniyyah) dan kemanusiaan (al-insaniyyah), dimensi materi dan ruhani, dunia dan akhirat, individu dan kolektif, dan lain-lain. Apabila tidak mengambil jalan tengah atas dua konsep yang saling bertentangan ini, akan menimbulkan banyak masalah.

Baca Juga:  Faisal Amien Prawira Terpilih Jadi Ketua DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Barat

“Misalnya nilai-nilai ketuhanan itu seperti tidak butuh makan, tidak butuh minum, tidak butuh sesuatu di luar dirinya, dan lain-lain. Kalau ini dipraktekkan oleh kita, akan timbul masalah. Pun demikian jika hanya mengandalkan nilai-nilai kemanusiaan, kita akan kehilangan Tuhan,” terang Cecep dalam Gerakan Subuh Mengaji belum lama ini.

Buya Cecep–sapaan akrabnya–menegaskan bahwa moderasi bukan sifat dalam Islam, melainkan hakikat Islam itu sendiri. Konsepsi ini memiliki pijakan kuat pada ayat Al-Quran tentang ummatan wasatha dalam QS Al-Baqarah ayat 143.

QS Al-Jumu’ah ayat 9-10 juga menampilkan gaya hidup moderat, yakni seorang muslim hendaknya beragama secara proporsional, yaitu disiplin dalam mengerjakan ibadah kepada Allah SWT dan mencari rezeki untuk keluarga.

Baca Juga:  5 UIN yang Paling Diminati Calon Mahasiswa SPAN-PTKIN 2023

“Kita tidak boleh terlalu sibuk dengan urusan duniawi seperti dagang hingga lupa waktu ibadah. Juga kita tidak boleh sibuk dengan urusan ukhrawi yang lupa akan urusan-urusan kita dengan keduniaan. Ada saatnya kita mengerjakan ibadah, demikian juga ada saatnya kita bekerja,” tutur Buya Cecep.

Nabi Muhammad SAW pernah menampilkan sikap wasathiyah ketika berdialog dengan para sahabat. Kisah yang direkam Aisyah ini menceritakan tiga orang sahabat yang mengaku menjalankan agamanya dengan baik.

Masing-masing dari ketiga sahabat itu mengaku rajin berpuasa dan tidak berbuka, selalu salat malam dan tidak pernah tidur, dan tidak menikah lantaran takut mengganggu ibadah.

Rasulullah SAW saat itu menegaskan, “Aku yang terbaik di antara kalian.” Karena Nabi SAW berpuasa dan berbuka, salat malam dan tidur, dan menikah.

Baca Juga:  UMBandung & KPPU RI Jalin Kerja Sama, Bahas tentang Iklim Usaha di Indonesia

“Dari hadis ini kita bisa ambil satu simpulan bahwa jika ada klaim Islam yang didakwahkan tetapi tidak memiliki nilai-nilai moderasi, ia kehilangan substansi Islam itu sendiri. Moderasi merupakan ruh Islam yang menjadi ruh Muhammadiyah,” tegas Buya Cecep.***