Kabar  

Alam Bukan Sekadar Tempat Hidup, tetapi Sumber Ilmu dan Refleksi Keimanan

KABARINDAH.COM, Bandung — Alam menyimpan banyak pelajaran yang dapat membantu manusia memahami kebesaran Allah sekaligus membentuk sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pengamatan terhadap makhluk hidup dan keteraturan alam, manusia bisa mengembangkan ilmu, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Pesan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam materi pengajian rutin UM Bandung bertajuk “Belajar dari Alam” yang disampaikan Wakil Ketua PWM Jawa Barat Ace Somantri di Masjid Fastabikul Khairat, lantai tiga kampus ini, pada Kamis (08/10/2026).

“Umat Islam harus memahami alam tidak sekadar sebagai tempat hidup. Namun, sebagai sumber pembelajaran dan bahan refleksi. Dalam perspektif Al-Qur’an, pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui wahyu yang tertulis, tetapi melalui tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta,” ujar Ace.

Menurut Ace, keduanya dikenal sebagai ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Jika wahyu memberikan petunjuk, alam menghadirkan berbagai fenomena yang dapat diamati, dipelajari, dan direnungkan.

Gagasan tersebut berkaitan dengan konsep ulul albab dalam QS Ali Imran ayat 190–191, yakni orang-orang yang mengingat Allah sekaligus merenungkan penciptaan langit dan bumi.

Dengan demikian, umat Islam tidak hanya berarti memahami teks. Namun, mengembangkan kemampuan mengamati, berpikir kritis, dan mengambil pelajaran dari lingkungan sekitar.

Belajar dari lebah, semut, dan burung

Pelajaran dari alam dapat ditemukan dalam perilaku berbagai makhluk hidup. Lebah, misalnya, menggambarkan produktivitas dan kerja sama melalui kemampuannya menghasilkan madu yang bermanfaat bagi makhluk lain.

Dalam QS An-Nahl ayat 68–69, lebah menjadi bagian dari tanda kebesaran Allah yang patut direnungkan manusia.

Semut juga memberikan pelajaran tentang komunikasi, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.

Sementara itu, burung menggambarkan pentingnya ikhtiar dalam mencari rezeki yang disertai tawakal kepada Allah.

“Nilai-nilai tersebut relevan untuk diterapkan dalam kehidupan keluarga, lingkungan pendidikan, tempat kerja, ataupun masyarakat. Produktivitas perlu berjalan bersama kerja sama, sedangkan usaha pribadi perlu diiringi kepedulian terhadap kepentingan bersama,” kata Kepala LP3K UM Bandung ini.

Ilmu pengetahuan dan keimanan

Ace juga menekankan pentingnya mengembangkan ilmu pengetahuan melalui pengamatan dan perenungan.

Keteraturan alam dapat mendorong manusia untuk melakukan penelitian, menemukan pengetahuan baru, dan mengembangkan inovasi yang bermanfaat bagi kehidupan.

Dalam kerangka tersebut, aktivitas ilmiah tidak harus dipisahkan dari refleksi keagamaan.

Pengetahuan dapat menjadi jalan untuk memperluas pemahaman tentang alam sekaligus memperkuat kesadaran manusia terhadap tanggung jawabnya sebagai makhluk Allah.

Ace juga mengingatkan pentingnya keseimbangan atau mizan. Manusia perlu menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari alam sehingga pemanfaatan sumber daya tidak boleh mengabaikan keberlangsungan kehidupan.

Kesadaran tersebut menuntut manusia untuk bersikap bersyukur, rendah hati, dan bertanggung jawab dalam menggunakan berbagai nikmat yang tersedia.

Menurut Ace, kedudukan manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab menjaga bumi. Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 56 mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.

Sementara itu, QS Ar-Rum ayat 41 mengaitkan kerusakan di darat dan laut dengan perbuatan manusia.

Pesan tersebut relevan dengan berbagai persoalan lingkungan saat ini, mulai dari penumpukan sampah plastik hingga kerusakan hutan dan perubahan iklim.

Kepedulian terhadap lingkungan karena itu tidak cukup berhenti pada pengetahuan atau ajakan moral. Nilai tersebut perlu diwujudkan melalui kebiasaan sehari-hari.

“Kita dapat memulainya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat air dan energi, menjaga kebersihan lingkungan, serta menanam dan merawat pohon. Dalam perspektif Islam, menanam pohon yang buahnya dimanfaatkan manusia atau hewan juga memiliki nilai sedekah,” tandas Ace.

Ace mengingatkan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah yang bermanfaat bagi makhluk hidup.

Belajar dari alam juga bukan sekadar mengenali ciptaan Allah, melainkan menumbuhkan tanggung jawab untuk memanfaatkan ilmu secara bijaksana dan menjaga kelestarian lingkungan.***(FA)

Exit mobile version