Satu Dekade “Atret Jadi Potret”, Ikhtiar Membangkitkan Kembali Seni Pertunjukkan Sandiwara Sunda di Sukabumi

KABARINDAH.COM–Di antara rimbun pepohonan dan cahaya temaram lampu taman, panggung sederhana berdiri di kawasan Secret Garden Sukabumi, Sabtu (14/2/2026) malam. Di sanalah pertunjukkan bertajuk Teater Tari Musik (Tertarik) merayakan satu dekade pementasan “Atret Jadi Potret”, sebuah sandiwara Sunda yang pernah mengantar Kota Sukabumi menorehkan prestasi di tingkat Jawa Barat hingga nasional.

Riuh tepuk tangan penonton membuka malam itu. Sebagian datang karena nostalgia, sebagian lagi karena penasaran—siapa sebenarnya Atret, tokoh yang selama puluhan tahun berjalan kaki mengelilingi kota, membawa dua karung putih di kiri dan kanan, tanpa pernah meminta-minta, tanpa pernah mengais sisa makanan, dan tanpa pernah benar-benar dipahami.

Ketua Paguyuban Seni Budaya Kota Sukabumi, Muhammad Ichwan Muslimin—yang akrab disapa Bob Muslim—mengisahkan, pementasan ini bukan sekadar perayaan ulang tahun karya. “Sepuluh tahun lalu, dengan judul yang sama, Sukabumi menjadi juara Jawa Barat dan dikirim ke tingkat nasional. Hari ini genap satu dekade. Ini menjadi harapan bagi teman-teman seni pertunjukan, khususnya sandiwara Sunda, bahwa kita masih ada,” ujarnya yang juga penulis naskah sandiwara Atret Jadi Potret.

Kang Bob mengingat betul momentum satu dekade silam itu. Di tengah keterbatasan fasilitas, para pelaku seni tetap percaya bahwa panggung tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Kini, tantangan terasa lebih nyata: ikon gedung pertunjukan Sri Asih yang dahulu menjadi ruang ekspresi telah tiada. Panggung permanen menghilang, tetapi semangat tak ikut runtuh.

“Walaupun gedungnya (Sri Asih-red) sudah tidak ada, malam ini menjadi titik awal untuk revitalisasi. Minimal ada ruang-ruang dari restoran, hotel, atau komunitas yang bisa menyediakan tempat bagi pertunjukan seni tradisional lokal,” kata Kang Bob.
“Atret Jadi Potret” sendiri mengangkat kisah figur yang oleh sebagian orang dicap “tidak waras”. Namun di balik label itu, Atret justru menghadirkan keteduhan. Ia tak mengganggu, tak meminta, dan justru membuat orang yang berpapasan dengannya merasa senang—berbeda dengan stereotip yang melekat pada orang dengan gangguan kejiwaan.

Dalam tafsir Kang Bob, Atret adalah cermin. Sosok yang dianggap “gila” justru memantulkan kewarasan bagi orang-orang yang merasa normal. Dalam satu adegan, diceritakan seorang juragan kaya bernama Kohar ingin membangun Tugu Atret di alun-alun kota. Gagasan yang terdengar ganjil—“tugu orang gila”—justru menjadi satire sosial yang menggugah. Apakah kewarasan selalu milik mereka yang mapan dan berkuasa?

Pertunjukan malam itu bergerak lincah antara dialog satir, gerak tari, dan komposisi musik tradisional yang menguatkan suasana. Penonton larut dalam tawa sekaligus perenungan. Atret bukan sekadar karakter; ia adalah simbol ketulusan yang tak menuntut pengakuan.
Bagi Kang Bob, pesan yang ingin ditegaskan sederhana tetapi mendasar: seni tradisional masih relevan. “Kami berharap ada kolaborasi dengan pemerintah daerah. Regulasi yang memudahkan, ruang yang nyaman, agar sandiwara Sunda bisa lebih dinikmati masyarakat,” katanya.

Kang Bob juga menaruh harapan besar pada generasi muda Sukabumi. Di tengah arus budaya populer dan gempuran digital, kecintaan terhadap seni tradisional perlu terus ditumbuhkan. “Kami ingin anak-anak muda lebih mencintai seni budaya lokalnya sendiri,” ujarnya.

Malam di Secret Garden pun berakhir dengan tepuk tangan panjang. Di panggung tanpa gedung permanen, di ruang terbuka yang bersahabat, sandiwara Sunda kembali menemukan napasnya. Satu dekade “Atret Jadi Potret” menjadi penanda bahwa meski ruang fisik berubah, ruh kebudayaan tak mudah hilang.

Dan di antara riuh penonton yang perlahan pulang, kisah Atret seolah kembali berjalan menyusuri kota—diam, sederhana, tetapi meninggalkan jejak yang sulit dilupakan.

Exit mobile version