PMI Terus Kirim Logistik untuk Warga Terdampak Gempa NTT, Perkuat Operasi Kemanusiaan

KABARINDAH.COM, JAKARTA — Palang Merah Indonesia (PMI) terus memperkuat operasi kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengiriman bantuan logistik dilakukan secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mendukung penanganan darurat di wilayah terdampak.

Hingga saat ini, total sekitar 20 ton barang bantuan PMI telah dikirimkan untuk mendukung masyarakat terdampak gempa bumi di NTT. Bantuan tersebut dimobilisasi melalui jaringan pergudangan PMI, mulai dari gudang pusat, gudang regional hingga gudang subregional.

Pengiriman logistik dilakukan PMI bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Salah satu pengiriman diberangkatkan dari Gudang Klaster Logistik Nasional di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, menggunakan pesawat Boeing A-7305 milik TNI AU.

Selain dari Jakarta, PMI juga melakukan mobilisasi logistik dari gudang regional PMI Pusat di Gresik, serta gudang subregional PMI di Kupang dan Mataram. PMI juga mendirikan hub logistik di Labuan Bajo untuk memperkuat sistem distribusi bantuan di wilayah NTT.

Kepala Biro Sarana dan Prasarana (Sarpras) Markas PMI Pusat, Ilham Huznul, mengatakan pengiriman logistik tersebut merupakan tindak lanjut arahan Ketua Umum PMI Jusuf Kalla agar PMI memperkuat operasi kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa di NTT.

“Menindaklanjuti arahan Ketua Umum PMI Bapak Jusuf Kalla, respon gempa NTT ini operasi besar. kami terus melakukan mobilisasi logistik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak gempa di NTT. Sampai saat ini, total sekitar 20 ton barang bantuan PMI telah kami kirimkan secara bertahap,” ujar Ilham Huznul.

Menurut Ilham, pengiriman bantuan dilakukan melalui sejumlah titik untuk mempercepat proses mobilisasi dan distribusi.

“Bantuan tidak hanya dikirim dari Gudang Klaster Logistik Nasional di Jakarta dan gudang regional PMI Pusat di Gresik, tetapi kami juga mengoptimalkan gudang subregional PMI di Kupang dan Mataram. Ini kami lakukan agar bantuan dapat lebih cepat bergerak mendekati wilayah yang terdampak,” katanya.

Ia menjelaskan, pemanfaatan beberapa titik pergudangan menjadi strategi PMI dalam menghadapi kebutuhan operasi kemanusiaan yang cukup luas.

“Jadi, sumber logistik tidak hanya terpusat di Jakarta. Kami mengoptimalkan stok yang tersedia di gudang pusat, regional maupun subregional. Dengan pola ini, kita bisa mengatur mobilisasi dari beberapa titik dan mempercepat pemenuhan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak,” ujar Ilham.

Selain mengoptimalkan gudang regional dan subregional, PMI juga mendirikan hub logistik di Labuan Bajo sebagai bagian dari penguatan rantai distribusi bantuan kemanusiaan.

“Kami juga mendirikan hub logistik di Labuan Bajo. Hub ini menjadi salah satu titik pendukung untuk penerimaan, konsolidasi dan distribusi logistik, sehingga bantuan yang datang dari berbagai sumber dapat lebih cepat diteruskan ke wilayah yang membutuhkan,” jelas Ilham.

Menurutnya, keberadaan hub logistik tersebut diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi dan meningkatkan efektivitas penyaluran bantuan.

“Kita tidak hanya mengandalkan satu titik pengiriman. Ada jaringan logistik yang kita aktifkan, mulai dari pusat, regional, subregional sampai hub logistik di Labuan Bajo. Dengan pola ini, kami berharap waktu tempuh bantuan menuju masyarakat dapat dipangkas dan distribusinya menjadi lebih efektif,” tuturnya.

Ilham menegaskan, pengiriman bantuan tidak berhenti pada satu kali pemberangkatan. PMI terus memantau perkembangan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak dan melakukan mobilisasi secara bertahap.

“Mobilisasi ini akan terus berjalan. Kami memantau kebutuhan di lapangan dan melakukan pengiriman secara bertahap. Ketika ada kebutuhan yang harus segera dipenuhi, kami akan mengoptimalkan stok yang ada di gudang pusat maupun gudang regional dan subregional untuk segera dimobilisasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan gudang regional dan subregional merupakan salah satu kekuatan PMI dalam mendukung respons bencana, terutama ketika bencana berdampak luas dan membutuhkan mobilisasi bantuan dalam jumlah besar.

“Dengan adanya stok yang tersebar di beberapa wilayah, kita tidak harus selalu menunggu seluruh bantuan dari Jakarta. Logistik yang tersedia di regional maupun subregional dapat segera dimobilisasi untuk mendukung kebutuhan operasi di lapangan,” katanya.

Ilham menambahkan, seluruh proses mobilisasi dan distribusi logistik dilakukan berdasarkan hasil asesmen kebutuhan di lapangan.

“Kami terus berkoordinasi dengan tim PMI di daerah. Apa yang dikirim harus berdasarkan kebutuhan, sehingga logistik yang dimobilisasi benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat terdampak,” ujar Ilham.

Menurutnya, koordinasi dan penguatan jalur distribusi menjadi bagian penting untuk memastikan bantuan dapat diterima masyarakat secara cepat dan tepat.

“Kami akan mengoptimalkan jalur distribusi dan titik-titik yang paling memungkinkan agar bantuan bisa lebih cepat sampai. Prinsipnya, semakin pendek rantai distribusi, semakin cepat bantuan dapat diterima masyarakat,” katanya.

Dikatakaannya Operasi kemanusiaan PMI di NTT diperkirakan berlangsung selama dua hingga tiga bulan, terutama untuk mendukung masyarakat pada fase tanggap darurat. PMI akan terus menyesuaikan dukungan berdasarkan perkembangan situasi dan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Dengan total sekitar 20 ton barang bantuan yang telah dikirimkan hingga saat ini, PMI terus memperkuat mobilisasi logistik melalui jaringan gudang pusat, regional dan subregional, termasuk Jakarta, Gresik, Kupang dan Mataram, serta memperkuat distribusi melalui hub logistik di Labuan Bajo.

PMI bersama Pemerintah, BNPB dan TNI AU memastikan dukungan kemanusiaan terus bergerak untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak gempa bumi di NTT.

Exit mobile version