KABARINDAH.COM, Sukabumi – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan bencana dan daerah blank spot jaringan melalui kegiatan Orientasi Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) yang merupakan bagian dari Program Resilience through Community and Connectivity (RCC) Fase-2.
Program ini merupakan hasil kolaborasi PMI Kabupaten Sukabumi bersama Atma Connect dan Internet Society Foundation (ISF), dengan fokus membangun ketangguhan masyarakat berbasis komunitas sekaligus memperkuat konektivitas komunikasi dalam respon kebencanaan.
“Kabupaten Sukabumi memiliki potensi risiko bencana yang tinggi. Karena itu, PMI memandang penting membangun kesiapsiagaan sejak tingkat masyarakat. Melalui orientasi SIBAT, kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya menjadi korban, tetapi juga berperan aktif dalam upaya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana,” ujar dr. Hondo Suwito. Sabtu (24/1/2026)
Ia menjelaskan bahwa perekrutan relawan SIBAT pada program ini difokuskan pada wilayah-wilayah rawan bencana sekaligus daerah dengan keterbatasan jaringan komunikasi.
“Perekrutan SIBAT kami fokuskan di wilayah rawan bencana dan daerah blank spot jaringan, di antaranya Desa Tegallega Kecamatan Cidolog, Desa Bojongtugu Kecamatan Curugkembar, Desa Citamiang, Desa Margaluyu, serta Desa Cimerang Kecamatan Purabaya,” katanya.
Menurut Hondo, keberadaan SIBAT di wilayah tersebut diharapkan mampu mempercepat respon awal kebencanaan dan meminimalkan dampak bencana sebelum bantuan dari luar wilayah tiba.
“Program ini merupakan fase kedua setelah sebelumnya sukses dilaksanakan di Kecamatan Nyalindung dan Gegerbitung. Dari pelaksanaan tersebut, terlihat adanya peningkatan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana,” ujar Alfan.
Alfan menekankan bahwa konektivitas komunikasi merupakan kebutuhan dasar yang memiliki tingkat kepentingan setara dengan layanan kemanusiaan lainnya dalam kondisi tanggap darurat.
“Dalam kondisi respon bencana, konektivitas komunikasi sama pentingnya dengan pelayanan kebutuhan masyarakat seperti evakuasi, logistik, pelayanan kesehatan dan sosial, serta pemenuhan kebutuhan air bersih. Tanpa komunikasi yang baik, seluruh layanan tersebut akan sulit berjalan secara efektif,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengalaman penanganan bencana di wilayah Sumatera menunjukkan bahwa terputusnya jaringan komunikasi dapat menghambat koordinasi dan memperlambat respon di lapangan.
“Belajar dari pengalaman bencana di Sumatera, saat konektivitas terputus, komunikasi dan koordinasi menjadi terhambat. Karena itu, penguatan konektivitas berbasis masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesiapsiagaan bencana yang berkelanjutan,” jelas Alfan.
Melalui program RCC Fase-2 ini, PMI Kabupaten Sukabumi bersama para mitra berharap terbentuknya relawan SIBAT yang tangguh, responsif, serta didukung oleh sistem komunikasi yang memadai, sehingga mampu mempercepat respon kemanusiaan dan meminimalkan dampak bencana di wilayah rawan.
