BANDUNGMU.COM, Bandung – Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bandung Dr Iim Ibrohim MAg mengajak umat Islam untuk senantiasa bersyukur atas nikmat keislaman yang telah Allah SWT anugerahkan.
Dia menegaskan bahwa menjadi seorang muslim merupakan karunia besar, terlebih hidup di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
“Sejatinya kita harus bersyukur menjadi seorang muslim. Apalagi kita ditakdirkan menjadi warga negara Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim,” ujarnya saat mengisi kajian Ramadhan di YouTube UM Bandung pada Selasa (03/03/2026).
Menurutnya, salah satu nikmat besar yang patut disyukuri di Indonesia adalah keberadaan pesantren yang jumlahnya sangat banyak dan tersebar di berbagai daerah.
Dia menyebut pesantren sebagai pilar penting dalam pendidikan umat. “Kita juga harus bersyukur karena Indonesia memiliki lembaga pendidikan yang sangat banyak, yaitu pesantren,” katanya.
Dia menjelaskan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan biasa, melainkan institusi yang secara konsisten mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan secara mendalam.
Meski demikian, pesantren tidak menutup diri dari perkembangan ilmu umum. “Pesantren adalah lembaga pendidikan yang betul-betul mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan. Walaupun bukan hanya ilmu keagamaan saja, ilmu duniawiah pun di sana dipelajari,” jelasnya.
Mengutip data Kementerian Agama, Iim menyampaikan bahwa jumlah pesantren di Indonesia mencapai lebih dari 42 ribu lembaga. Dari jumlah tersebut, hampir 13 ribu berada di Jawa Barat.
“Terbanyak di Jawa Barat, kemudian Jawa Timur, dan ketiga Banten. Maka kita sebagai warga Jawa Barat harus bersyukur atas keberkahan ini,” ungkapnya.
Dia menegaskan bahwa lulusan pesantren telah terbukti memberikan kontribusi positif dalam menanamkan nilai-nilai islami di tengah masyarakat. Para santri dibina tidak hanya dalam aspek keilmuan, tetapi juga akhlak dan karakter.
“Di pesantren, anak-anak kita dididik, dibina, dan diarahkan ke jalan yang lurus sesuai dengan petunjuk agama,” tuturnya.
Perkembangan zaman, lanjutnya, turut mendorong transformasi pesantren. Jika dahulu pesantren salafiyah lebih fokus pada kajian kitab-kitab klasik, kini banyak pesantren modern yang membekali santri dengan keterampilan praktis.
“Sekarang pesantren sudah mengajarkan berbagai keterampilan, seperti bertani, berternak, teknologi, dan skill lainnya. Jadi, ada keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu umum,” katanya.
Dia pun mengingatkan sabda Rasulullah SAW tentang keutamaan menuntut ilmu agama.
“Rasulullah bersabda, barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka dia akan difakihkan dalam urusan agama. Dan siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan mudahkan jalannya menuju surga,” ujarnya. Menurutnya, hadis ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan santri dan kiai di hadapan Allah SWT.
Lebih lanjut, dia menyampaikan klasifikasi unik pesantren yang pernah diungkapkan seorang kiai di Garut, yakni ngeluk, ngulik, ngelak, ngulek, dan ngelek.
“Ngeluk itu fokus mengkaji dan mendalami ilmu agama. Ngulik itu berinovasi dan berkontribusi kepada masyarakat. Ngelak itu berdakwah ke mana-mana. Ngulek itu kreatif menguasai ilmu umum. Dan ngelek itu berjuang menghadirkan pembiayaan demi keberlangsungan dakwah,” paparnya.
Pada akhir pernyataannya, Iim mengingatkan agar pesantren tetap menjaga marwah dan kemuliaannya. Dia menegaskan bahwa tidak boleh ada tindakan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan di lingkungan pesantren.
“Jangan sampai keberadaan pesantren ternodai oleh oknum yang memperlakukan santri secara tidak baik atau tidak manusiawi. Biarlah pesantren tetap menjadi lembaga yang membawa keselamatan dunia dan akhirat, bersih, dan senantiasa diridai Allah SWT,” pungkasnya.***(FA/FK)
