KABARINDAH.COM, BANDUNG – Dari sampah anorganik yang dipilah hingga kain perca yang diolah menjadi produk kreatif, masyarakat Kelurahan Campaka, Kecamatan Andir, Kota Bandung, terus mengembangkan berbagai upaya untuk menjaga lingkungan sekaligus menciptakan manfaat ekonomi. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari Program Campaka Kampung Iklim (CAPLIM).
PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (RJBB) melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Husein Sastranegara bersama Pemerintah Kelurahan Campaka melakukan monitoring untuk melihat perkembangan kelompok binaan CAPLIM, di antaranya Bank Sampah Campaka, Rumah Maggot Campaka, dan Master Jahit.
Bank Sampah Campaka kini memiliki satu Bank Sampah Induk dan 10 Bank Sampah Unit yang tersebar di setiap Rukun Warga (RW), sehingga memudahkan masyarakat memilah dan menyetorkan sampah anorganik dari lingkungan tempat tinggalnya.
Dalam sebulan, Bank Sampah Campaka mampu mengelola sekitar 300 kilogram sampah anorganik dengan pendapatan Bank Sampah Induk sekitar Rp1,5 juta per bulan, sementara Bank Sampah Unit di tingkat RW memperoleh sekitar Rp200 ribu hingga Rp800 ribu per bulan.
Ketua Bank Sampah Campaka sekaligus Local Hero pengelolaan sampah anorganik, Endis Distomi mengatakan program tersebut turut mendorong masyarakat untuk lebih aktif memilah dan mengelola sampah.
“Kami sangat merasakan manfaat dari program ini. Para kader di setiap RW juga aktif mengumpulkan dan menyetorkan sampah ke Bank Sampah Induk. Alhamdulillah, selain lingkungan menjadi lebih terkelola, manfaat ekonominya juga semakin terasa bagi anggota,” ujar Endis.
Pengelolaan sampah juga dilakukan melalui Rumah Maggot Campaka yang memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah sampah organik. Saat ini, kelompok tersebut mampu mengolah hingga 500 kilogram sampah organik setiap hari.
Local Hero Rumah Maggot Campaka, Dudi Subekti mengatakan pendampingan yang dilakukan turut mendukung pengembangan budidaya maggot. “Rumah Maggot Campaka terus berkembang dan produktivitas budidaya maggot semakin stabil. Penambahan ruang insektarium juga membantu menjaga siklus budidaya, khususnya pada tahap lalat BSF. Kami berterima kasih kepada Pertamina dan Pemerintah Kelurahan Campaka atas pendampingan yang terus diberikan,” ujar Dudi.
Selain pengelolaan sampah, CAPLIM turut mendorong pemberdayaan ekonomi melalui kelompok Master Jahit. Kain perca yang sebelumnya menjadi sisa produksi diolah menjadi produk kreatif seperti tas, topi, dan iket Sunda yang memiliki nilai guna dan ekonomi.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB PT Pertamina Patra Niaga, Reno Fri Daryanto mengatakan bahwa kerjasama dengan masyarakat untuk mengembangkan program CAPLIM ini tidak ada lain untuk memperkuat peran masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus mengembangkan potensi lokal.
“Program CAPLIM tidak hanya diarahkan pada pemberian bantuan, tetapi juga untuk membangun ekosistem yang dapat dikelola dan dikembangkan oleh masyarakat. Karena itu, pendampingan dan kolaborasi dengan pemerintah kelurahan menjadi penting agar manfaat program dapat terus dirasakan dalam jangka panjang,” ujar Reno.
Keberadaan Bank Sampah, Rumah Maggot, dan kelompok Master Jahit menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan sampah dan potensi lokal, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, poin 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin 13 tentang penanganan perubahan iklim. (*)
