Oleh : Tina Haryati, S.Pd.I., M.Pd.
Sahabat perempuan… sini, duduklah sebentar. Lalui senja dengan jingga yang indah ini dengan segelas teh hangat. Tidak perlu terburu-buru, karena hati juga butuh waktu untuk bernapas. Dengarkan simfoni alam yang Allah SWT hadirkan di sekitarmu; desir angin yang menyapa dedaunan, kicau burung yang tidak pernah lupa bertasbih, atau rintik hujan yang jatuh membawa aroma tanah.
Lalu, mari kita berbincang. Siapa tahu, hari ini Allah sedang menitipkan jawaban lewat sebuah tulisan.
Sahabat, Ada momen-momen dalam hidup ketika langit terasa begitu pekat, dan dada sesak oleh air mata yang tidak terbendung. Di tulisan sebelumnya, kita belajar menyadari bahwa ketika Allah SWT membiarkan mata ini menangis, itu bukanlah tanda kemurkaan-Nya. Itu adalah panggilan lembut agar kita kembali bersimpuh di atas sajadah, melepaskan kepemilikan semu, dan menyerahkan seluruh rasa sakit ke dalam dekapan takdir-Nya.
Namun, di tengah sujud-sujud panjang tempat kita menumpahkan rasa, sebuah kebingungan sering kali menyelinap. Kita telah berdoa dengan penuh air mata, memohon hal yang kita anggap sangat baik, tetapi takdir justru membawa kita ke arah yang berlawanan. Kita mulai bertanya-tanya: Mengapa doa seikhlas ini belum juga diijabah?
Jawabannya membisik lembut di balik sunyi: Sebab jawaban Allah atas doamu tidak selalu berupa “ijabah”. Kadang, bentuk kasih sayang-Nya adalah rasa kecewa yang menyelamatkanmu dari kehancuran yang lebih besar.
Manusia sering kali jatuh cinta pada keinginannya sendiri hingga lupa bahwa pengetahuannya sangat terbatas. Kita hanya melihat keindahan dari apa yang kita inginkan hari ini, sementara Allah melihat bahaya yang tersembunyi di dalamnya untuk masa depan kita.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ibnu Ata’illah dalam kitab Al-Hikam menegaskan hal ini dengan sangat indah:
“Kadang-kadang Allah memberimu tetapi sejatinya menolakmu, dan kadang-kadang Allah menolakmu tetapi sejatinya sedang memberimu.”
Ketika Allah berkata “Tidak” pada sebuah rencana, pekerjaan, atau sosok yang kamu pinta, itu bukan berarti Dia tidak mendengar doamu. Itu adalah bentuk perlindungan (hifzh). Allah sedang menghindarkanmu dari kehancuran yang belum sanggup kamu lihat dengan mata telanjangmu.
Affective Forecasting dan Jebakan Ekspektasi
Dalam ilmu psikologi, terdapat sebuah konsep yang disebut Affective Forecasting, yaitu kecenderungan manusia untuk memprediksi bagaimana suatu kejadian di masa depan akan membuat mereka merasa bahagia atau sedih.
Para ahli psikologi menemukan bahwa manusia sangat sering salah dalam memprediksi hal tersebut. Kita cenderung berpikir bahwa mendapatkan sesuatu yang kita inginkan akan membuat kita bahagia selamanya, padahal belum tentu demikian.
Pikiran kita hanya memproyeksikan skenario ideal (best-case scenario) dari apa yang kita impikan.
Peran Penolakan sebagai Cognitive Reframing: Ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi, otak mengalami cognitive dissonance (ketidaksesuaian mental). Namun, belajar menerima kata “Tidak” dari takdir melatih fleksibilitas mental (cognitive flexibility), membuat kita lebih tahan terhadap kekecewaan dan tidak menggantungkan kebahagiaan pada satu hasil tunggal.
Yuk belajar dari kisah ini: Pelayaran yang Tertunda dan Keselamatan
Alkisah pada zaman dahulu, seorang pedagang muslim yang sangat tekun beribadah bersiap-siap untuk berlayar membawa barang dagangan besarnya ke negeri seberang. Ini adalah pelayaran terpenting dalam hidupnya yang ia mendoakan keberhasilannya siang dan malam.
Di hari keberangkatan, saat menuju pelabuhan, kelereng kuda tunggangannya tersangkut batu hingga jatuh dan kakinya patah. Sang pedagang pun terlempar, kakinya terkilir hebat, dan barang dagangannya berhamburan. Ia terlambat tiba di pelabuhan dan menyaksikan kapal utama yang seharusnya ia tumpangi sudah berlayar meninggalkannya.
Dengan hati hancur dan derai air mata, ia meratapi takdirnya di tepi dermaga, merasa doanya sama sekali tidak didengar oleh Allah.
Namun, dua hari kemudian, sebuah kabar mengguncang kota pelabuhan: kapal besar yang berlayar hari itu dihantam badai dahsyat di tengah laut dan tenggelam tanpa ada satu pun penumpang yang selamat. Sang pedagang bersimpuh sujud syukur. Patah kaki dan keterlambatannya yang sangat ia tangisi dua hari lalu ternyata adalah cara Allah menyelamatkan nyawanya.
Mengubah Kekecewaan Menjadi Prasangka Baik
Sahabat, tidak dijawabnya doamu sesuai dengan caramu bukanlah tanda bahwa Allah tidak mencintaimu. Justru karena Dia sangat mencintaimu, Dia tidak membiarkanmu mengambil sesuatu yang akan merusak agamamu, hatimu, atau masa depanmu.
Coba renungkan kembali perjalanan hidupmu sejauh ini:
Berapa banyak kata “Tidak” dari Allah di masa lalu yang baru kamu syukuri hari ini?
Berapa banyak pintu yang tertutup rapat, yang ternyata membimbingmu menemukan pintu lain yang jauh lebih indah dan tenang?
(Lanjutkan perjalanan spiritualmu dalam episode selanjutnya di Pelukan Langit The Series… sampai jumpa lagi di ruang muhasabah)
