Ibrah  

Pelukan Langit The Series : Ketika Allah SWT Membiarkanmu Menangis

Oleh : Ustadzah Tina Haryati, S.Pd.I., M.Pd.
(Founder Teras Muslimah, Daiyah Sukabumi, Penulis, Pengajar Madrasah dan Hypnotherapist)

Sahabat perempuan… sini, duduklah sebentar. Lalui senja dengan jingga yang indah ini dengan segelas teh hangat. Tak perlu terburu-buru, karena hati juga butuh waktu untuk bernapas. Dengarkan simfoni alam yang Allah Swt hadirkan di sekitarmu; desir angin yang menyapa dedaunan, kicau burung yang tak pernah lupa bertasbih, atau rintik hujan yang jatuh membawa aroma tanah.

Lalu, mari kita berbincang. Siapa tahu, hari ini Allah sedang menitipkan jawaban lewat sebuah tulisan.

Sahabat, Ada tangisan yang disaksikan banyak orang. Ada pula tangisan yang hanya diketahui oleh langit.

Tangisan yang kedua sering kali lebih sunyi. Ia jatuh di penghujung malam, ketika semua orang terlelap. Ia mengalir di sela-sela sujud yang panjang, di balik senyum yang tetap dipaksakan pada siang hari. Tidak ada tepukan di bahu. Tidak ada pelukan. Yang ada hanyalah hati yang terus bertanya,

“Ya Allah… mengapa Engkau membiarkanku menangis selama ini?”

Sahabat, Apa yang sedang dirasakan?Mungkin engkau sedang menunggu kesembuhan yang tidak kunjung datang. Mungkin engkau sedang berjuang melunasi utang yang terasa begitu berat. Mungkin engkau kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Atau mungkin, engkau telah lama mengetuk pintu langit dengan doa yang sama, tetapi jawabannya masih berupa penantian.

Di saat seperti itulah setan sering membisikkan prasangka yang paling berbahaya.

“Kalau Allah mencintaiku, mengapa hidupku sesulit ini?”

Padahal, sejak kapan cinta Allah diukur dari mudah atau sulitnya kehidupan?

Allah sendiri telah mengingatkan dalam firman-Nya,

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka belum diuji?” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 2).

Ujian bukanlah bukti bahwa Allah meninggalkan hamba-Nya. Justru sering kali ujian menjadi bukti bahwa Allah sedang mendidik hati agar naik ke derajat yang tidak mungkin dicapai hanya dengan kenyamanan.

Kita hidup di zaman yang mengagungkan kebahagiaan. Media sosial dipenuhi wajah-wajah tersenyum, perjalanan indah, dan kisah-kisah yang tampak sempurna. Seolah-olah menangis adalah tanda kegagalan, dan kesedihan adalah sesuatu yang harus segera disembunyikan.

Padahal ilmu psikologi modern justru menunjukkan hal yang berbeda.

Dr. William H. Frey II, seorang peneliti yang mengkaji tangisan emosional selama bertahun-tahun, menemukan bahwa menangis merupakan respons biologis yang berkaitan dengan pelepasan tekanan emosi. Tangisan emosional berbeda dari air mata yang muncul karena debu atau iritasi mata. Menangis adalah bagian dari mekanisme alami manusia dalam menghadapi beban batin.

Psikolog Susan David juga menjelaskan bahwa emosi yang diterima dengan kesadaran jauh lebih menyehatkan daripada emosi yang terus ditekan. Kesedihan yang diakui bukanlah kelemahan. Ia justru menjadi pintu bagi ketahanan psikologis dan pertumbuhan diri.

Namun Islam mengajarkan sesuatu yang melampaui itu.

Islam tidak hanya mengajarkan bahwa menangis itu manusiawi. Islam mengajarkan kepada siapa air mata itu harus dipersembahkan.

Lihatlah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Beliau kehilangan putra yang sangat dicintainya. Bertahun-tahun lamanya beliau hidup dalam kerinduan hingga kedua matanya memutih karena terlalu banyak menangis. Meski demikian, beliau tidak pernah menggugat takdir Allah. Beliau berkata,

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf [12]: 86).

Betapa indahnya kalimat itu.

Ya’qub tidak menyangkal kesedihannya. Beliau juga tidak menumpahkan seluruh luka kepada manusia. Beliau memilih menjadikan Allah sebagai tempat pulang bagi seluruh air matanya.

Rasulullah ﷺ pun demikian.

Ketika putra beliau, Ibrahim, wafat, mata beliau dipenuhi air mata. Para sahabat melihatnya. Namun beliau bersabda,

“Sesungguhnya mata ini meneteskan air mata dan hati bersedih, tetapi kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kami.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadist ini mengajarkan bahwa iman tidak menghapus kesedihan. Iman membimbing bagaimana seseorang bersikap ketika kesedihan datang.

Tangisan bukan lawan dari keteguhan. Putus asa itulah lawannya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menjelaskan bahwa musibah yang paling besar bukanlah ujian itu sendiri, melainkan ketika ujian menjauhkan seorang hamba dari Allah. Sebaliknya, ujian yang membuat hati semakin dekat kepada-Nya sesungguhnya adalah nikmat yang tersembunyi.

Senada dengan itu, Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan agar seorang hamba tidak berburuk sangka ketika doa terasa lama dikabulkan. Allah telah menjamin pengabulan doa sesuai pilihan-Nya, bukan selalu sesuai waktu yang kita inginkan. Sebab Allah mengetahui apa yang belum kita ketahui, melihat apa yang belum mampu kita lihat, dan menyiapkan sesuatu yang belum mampu kita bayangkan.

Mungkin hari ini engkau merasa Allah membiarkanmu menangis.Padahal, bisa jadi Allah sedang menyelamatkanmu dari kesombongan yang tidak kau sadari.

Bisa jadi Allah sedang mempersiapkan pundakmu agar cukup kuat memikul nikmat yang kelak akan Dia titipkan.

Bukankah hujan selalu jatuh sebelum tanah melahirkan kehidupan?

Bukankah biji harus pecah terlebih dahulu sebelum menjadi pohon yang rindang?

Demikian pula hati manusia.

Sering kali ia harus retak agar cahaya hidayah dapat masuk ke dalamnya.

Maka, jika malam ini air matamu kembali jatuh, jangan buru-buru menghapusnya dengan rasa malu. Biarkan ia menjadi saksi bahwa engkau masih memiliki hati yang hidup. Hati yang masih berharap kepada Rabb-nya. Hati yang masih percaya bahwa tidak ada satu pun tetes air mata yang luput dari penglihatan Allah.

Sebab kelak, ketika semua tabir tersingkap, mungkin engkau akan menyadari bahwa hari-hari paling berat dalam hidupmu ternyata adalah hari-hari ketika Allah sedang menggenggam tanganmu paling erat.

Exit mobile version