Kabar  

Muhammadiyah Perkuat Bahasa Arab di Pesantren, Buka Jalan Santri Menuju Kampus Dunia

KABARINDAH.COM, Bandung – Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Fakultas Agama Islam UM Bandung dan Uhamka menggelar Seminar Nasional bertajuk “Pembelajaran Bahasa Arab Berkemajuan di Pesantren Muhammadiyah” pada Sabtu (20/06/2026).

Kegiatan ini berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan dan menjadi forum strategis untuk memperkuat pembelajaran bahasa Arab di pesantren Muhammadiyah.

Seminar tersebut diikuti sekitar seratus peserta yang berasal dari berbagai daerah, mulai dari Lampung hingga Jawa Timur.

Selain para pengelola dan pendidik pesantren, kegiatan ini juga dihadiri mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah dan peserta dari berbagai lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Ketua LP2 Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr H Maskuri MEd menegaskan bahwa penguatan pembelajaran bahasa Arab menjadi kebutuhan penting bagi pesantren Muhammadiyah.

Menurutnya, kemampuan bahasa Arab yang baik akan membuka akses yang lebih luas bagi santri untuk memahami kitab-kitab turats, sekaligus melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi terkemuka di luar negeri.

“Penguasaan bahasa Arab menjadi salah satu kunci untuk memahami khazanah keilmuan Islam yang tertuang dalam kitab-kitab turats. Selain itu, peluang studi ke luar negeri, seperti ke Mesir, Maroko, ataupun Libya, semakin terbuka bagi lulusan pesantren yang memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik,” ujarnya.

Maskuri menjelaskan bahwa saat ini Muhammadiyah memiliki sekitar 448 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dia berharap jumlah tersebut terus bertambah seiring meningkatnya kualitas pendidikan pesantren, khususnya dalam penguasaan bahasa Arab, baik secara lisan maupun tulisan.

Menurutnya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga terus mendorong kaderisasi melalui berbagai program beasiswa ke luar negeri.

Salah satunya adalah kerja sama dengan Universitas Al-Azhar Mesir yang setiap tahun menyediakan kuota beasiswa bagi kader Muhammadiyah.

“Kuota beasiswa luar negeri terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, syarat utamanya adalah kemampuan bahasa Arab yang kuat serta hafalan Al-Qur’an yang memadai. Karena itu, penguatan bahasa Arab di pesantren menjadi sangat penting,” katanya.

Sementara itu, Rektor UM Bandung Prof Dr Ir Herry Suhardiyanto  MSc IPU menilai bahwa bahasa Arab memiliki posisi strategis, tidak hanya dalam konteks keagamaan, tetapi dalam pergaulan internasional.

Dia mengingatkan bahwa bahasa Arab merupakan salah satu dari enam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Bahasa Arab selama ini masih kurang mendapatkan perhatian, padahal perannya sangat penting. Dengan menguasainya, kita dapat mengakses berbagai sumber ilmu pengetahuan dalam kitab-kitab klasik Islam dan memperluas peluang kerja sama di bidang ekonomi, diplomasi, dan hubungan internasional, khususnya dengan negara-negara Timur Tengah,” ungkapnya.

Herry juga mendorong agar pembelajaran bahasa Arab di semua jenjang pendidikan Muhammadiyah dilakukan secara menyenangkan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini.

Seminar nasional tersebut dibuka secara resmi oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr KH Saad Ibrahim MA.

Dalam sambutannya, dia menegaskan bahwa bahasa Arab memiliki kedudukan istimewa karena dipilih Allah SWT sebagai bahasa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Menurut Kiai Saad, kekayaan kosakata bahasa Arab menjadi salah satu keunggulannya dibandingkan dengan banyak bahasa lain di dunia.

Dia mencontohkan bahwa bahasa Arab memiliki jutaan kosakata yang memungkinkan makna-makna Al-Qur’an tersampaikan secara lebih kaya dan mendalam.

“Bahasa Arab memiliki kekayaan kosakata yang luar biasa. Bahkan untuk satu objek saja, seperti unta, terdapat empat puluh istilah yang digunakan. Ini menunjukkan keluasan makna yang dimiliki bahasa Arab sehingga Al-Qur’an sebenarnya tidak dapat diterjemahkan secara sempurna ke dalam bahasa lain,” jelasnya.

Kiai Saad menambahkan bahwa penguasaan ilmu bahasa Arab, termasuk ilmu nahwu dan sharaf, merupakan bekal penting bagi generasi muslim untuk memahami Al-Qur’an ataupun kitab-kitab klasik Islam.

Oleh karena itu, dia mengapresiasi upaya LP2 Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang terus mengembangkan kualitas pembelajaran bahasa Arab di pesantren.

Kiai Saad pun berharap seminar ini dapat melahirkan gagasan, metode, dan inovasi pembelajaran yang lebih efektif sehingga santri Muhammadiyah mampu membaca dan memahami kitab turats dengan lebih cepat dan mendalam.

“Jika Muhammadiyah mampu melahirkan metode pembelajaran bahasa Arab yang efektif dan memberikan kontribusi bagi peradaban, maka bukan tidak mungkin akan lahir generasi ulama dan cendekiawan besar yang mampu meneruskan tradisi keilmuan Islam seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd,” tandasnya.

Melalui seminar nasional ini, Muhammadiyah berharap penguatan pembelajaran bahasa Arab di pesantren dapat terus berkembang secara berkelanjutan.

Dengan demikian, pesantren Muhammadiyah tidak hanya mampu mencetak kader yang unggul dalam pemahaman keislaman, tetapi memiliki daya saing global melalui penguasaan bahasa Arab yang kuat.***

Exit mobile version