Oleh: Nashrul Mu’minin*
Setiap 21 April kita sibuk karnaval. Kebaya, sanggul, lomba masak. Setelah itu selesai.
Kita merasa sudah menghormati Kartini. Padahal, justru di situlah pengkhianatan dimulai.
Kita mereduksi Kartini jadi simbol kosmetik. Padahal, Kartini adalah ancaman bagi status quo.
Ia lahir 21 April 1879 sebagai anak Bupati Jepara, tetapi status ningrat itu borgolnya. Umur 12 tahun dipingit.
Sekolah ditutup. Dunia disempitkan jadi dapur dan kamar tidur. Kartini tidak terima.
Musuhnya bukan Belanda, tetapi mental feodal yang bilang otak perempuan berbahaya.
Senjata Kartini bukan teriakan, tetapi tulisan. Dari kamar pingitan, ia kirim ratusan surat ke Stella Zeehandelaar dan Rosa Abendanon.
Isinya bukan curhat, tetapi pembantaian intelektual terhadap patriarki Jawa: kenapa nikah dipaksa, kenapa sekolah diharamkan, kenapa “kodrat” dipakai buat matiin akal.
J.H. Abendanon menerbitkan surat itu jadi “Door Duisternis tot Licht”. Gelapnya adalah kebodohan yang dilestarikan. Terangnya adalah pendidikan yang dibuka paksa.
Ironinya, 147 tahun setelah Kartini lahir, kita masih gelap. UUD 1945 Pasal 27 ayat (1) sudah jamin kesetaraan. Pasal 31 ayat (1) jamin hak pendidikan.
Kartini menuntut dua hal itu sebelum Indonesia lahir.
Sekarang? Data BPS 2025 masih mencatat perkawinan anak tertinggi ada di kantong-kantong yang paling kencang merayakan Hari Kartini.
Gaji perempuan masih 23% lebih rendah dari laki-laki untuk kerja yang sama. Di kolom komentar, perempuan S3 masih ditanya, “kapan nikah?”.
Ini bukan salah Kartini. Ini salah kita yang mengubah pahlawan jadi hiasan dinding.
Dalam Islam, Kartini justru sedang menegakkan wahyu pertama. اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ — QS. Al-‘Alaq: 1.
Perintah “bacalah” turun tanpa catatan kaki “khusus laki-laki”. Menolak perempuan sekolah = menolak iqra. Titik.
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ — QS. Al-Mujadilah: 11.
Derajat di sisi Allah diukur iman + ilmu, bukan iman + kelamin. Feodalisme dulu dan stereotip “pemimpin harus laki-laki” sekarang, dua-duanya melawan ayat ini.
Jadi, opini saya tegas: hentikan seremoni kosong. Kartini tidak butuh kebaya kita. Dia butuh keberanian kita.
Keberanian bilang tidak pada nikah dini berkedok agama. Keberanian bayar gaji setara. Keberanian dukung perempuan memimpin tanpa embel-embel “asal tidak melupakan kodrat”.
Kalau 21 April cuma jadi ajang foto, maka kita bukan penerus Kartini. Kita adalah penjara baru yang ia lawan dulu. Hanya saja pintunya sekarang dari kaca dan jerujinya dari ekspektasi sosial.
Menghormati Kartini itu sederhana: pastikan tidak ada lagi Kartini-Kartini baru yang dipingit oleh zaman ini.
Caranya? Beri ruang, beri ilmu, beri kepercayaan. Bukan beri kebaya.
Karena pena Kartini sudah membakar feodalisme. Jangan sampai kebaya kita justru memadamkan apinya.
Kartini sudah selesai berjuang. Sekarang giliran kita yang diuji.
*Content Writer Yogyakarta
