Kabar  

Ketua Yayasan Batik Jabar Dorong Pelestarian Kebaya dan Batik di Kampus

KABARINDAH.COM, Bandung – Ketua Yayasan Batik Jawa Barat Sendy Dede Yusuf mengapresiasi penyelenggaraan pameran Kain & Kebaya IBU #3 yang digelar di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti konsistensi prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung dalam menghadirkan ruang pelestarian budaya melalui seni dan wastra Nusantara.

Hal itu disampaikan Sendy saat memberikan sambutan pada pembukaan pameran Kain & Kebaya IBU #3 pada Rabu (20/05/2026).

Pameran tersebut terselenggara atas kolaborasi prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung, Yayasan Batik Jawa Barat, serta Pusat Studi Wastra Nusantara.

Ia secara khusus mengapresiasi keberlanjutan penyelenggaraan kegiatan yang kini memasuki tahun ketiga. Menurutnya, konsistensi menghadirkan ruang apresiasi budaya seperti ini memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan warisan Nusantara.

“Ini sudah yang ketiga kalinya. Seni itu jangan dianggap remeh. Seorang pemimpin juga harus memiliki seni sehingga mampu menghadirkan cinta dan kasih di mana pun ditempatkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Sendy menegaskan pentingnya memahami batik dan kebaya sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Ia mengingatkan bahwa batik telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda Indonesia sejak 2 Oktober 2009.

Selain itu, kebaya juga telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda UNESCO melalui skema joint nomination yang diajukan bersama lima negara, yakni Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Indonesia.

Menurutnya, Indonesia sebelumnya sempat mengupayakan pengajuan secara mandiri sebelum akhirnya bergabung dalam pengajuan bersama.

Sendy juga menyoroti penetapan Hari Kebaya Nasional yang diperingati setiap 24 Juli. Menurutnya, berbagai momentum penting terkait batik dan kebaya perlu terus diperingati, termasuk di lingkungan pendidikan.

Ia mengusulkan agar sivitas akademika UM Bandung membiasakan penggunaan batik saat Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober dan mengenakan kebaya pada peringatan Hari Kebaya Nasional setiap 24 Juli.

“Bukan sekadar imbauan, tetapi perlu menjadi kebiasaan yang dijalankan bersama. Kalau tidak dimulai dari kita, perhatian terhadap warisan budaya bisa semakin berkurang,” katanya.

Tak hanya mengajak menjaga budaya melalui penggunaan batik dan kebaya, Sendy juga mendorong mahasiswa, khususnya dari Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion, untuk berani menekuni dunia kewirausahaan berbasis wastra.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan regenerasi pelaku industri kreatif, khususnya di bidang batik dan tenun, agar warisan budaya tersebut tetap hidup dan terus berkembang.

“Saya berharap mahasiswa berani menjadi wirausahawan batik atau tenun. Indonesia membutuhkan regenerasi agar batik dan tenun tetap lestari,” ujarnya.***

Exit mobile version