Kabar  

Junjung Integritas, Apoteker UM Bandung Siap Perkuat Layanan Kesehatan Masyarakat

BANDUNGMU.COM, Bandung — Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto mendorong apoteker lulusan UM Bandung untuk menjadi tenaga profesional yang berintegritas dan memiliki komitmen kuat dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Herry saat memberikan sambutan usai prosesi pengambilan sumpah dua belas apoteker UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 751, Sabtu (3/10/2026).

Sebanyak dua belas apoteker yang disumpah merupakan lulusan angkatan pertama Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UM Bandung. Mereka juga dinyatakan lulus seratus dalam ujian kompetensi nasional.

Herry menyebut keberhasilan tersebut menjadi capaian penting sekaligus awal bagi para lulusan untuk membangun reputasi profesi apoteker UM Bandung.

“Selamat kepada para apoteker yang sudah disumpah. Anda sekalian adalah pelopor yang ikut membentuk reputasi apoteker UM Bandung dengan prestasi yang membanggakan,” ujar Herry.

Rektor mengingatkan para apoteker agar tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan profesi.

Perkembangan ilmu farmasi, teknologi kesehatan, serta regulasi yang terus berubah menuntut apoteker untuk selalu memperbarui pengetahuan dan kompetensinya.

Ia juga meminta para apoteker mampu membangun kolaborasi ketika memasuki dunia kerja, baik di rumah sakit, industri farmasi, maupun bidang pelayanan kesehatan lainnya. Selain itu, apoteker UM Bandung juga

Menurut Herry, kolaborasi dengan sesama apoteker dan tenaga kesehatan dari profesi lain diperlukan untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat.

“Jadilah apoteker yang peduli kepada masyarakat, terutama mereka membutuhkan pelayanan kesehatan. Teruslah memperkuat layanan kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembina Harian UM Bandung Dadang Kahmad berpesan agar para apoteker menjadi pribadi yang andal, berakhlak, amanah, dan terus mengembangkan keilmuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dadang juga mengingatkan pentingnya memperbarui kompetensi di bidang farmasi, sekaligus meningkatkan kemampuan soft skill.

Menurutnya, penguasaan ilmu perlu berjalan beriringan dengan kemampuan berkomunikasi, membangun relasi, bekerja sama, dan menunjukkan kepribadian atau akhlak yang baik.

Sementara itu, Dekan Farmasi UM Bandung Dwintha Lestari menegaskan bahwa sumpah apoteker bukan sekadar teks di atas kertas.

Sumpah tersebut menjadi landasan moral dan profesional bagi apoteker dalam menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, penuh integritas, dan kepedulian terhadap kemanusiaan.

Dwintha meminta para apoteker benar-benar menghayati setiap poin sumpah yang telah diikrarkan.

Ia juga berpesan agar para lulusan menjaga etika dan profesionalisme serta terus mengikuti perkembangan dunia kefarmasian.

“Di mana pun Anda mengabdi, junjung tinggi etika dan profesionalisme. Teruslah belajar karena dunia kefarmasian saat ini terus berkembang. Kami titip jaga nama baik UM Bandung. Tunjukkan budi pekerti luhur Anda sekalian di mana pun Anda berkarier,” ujar Dwintha.

Salah satu apoteker yang diambil sumpahnya adalah Fransisca Natalia Hedy. Ia meraih IPK tertinggi di antara lulusan angkatan pertama tersebut.

Dia berhasil meraih IPK 3,96. Fransisca mengaku nyaman menjalani pendidikan profesi apoteker di UM Bandung meskipun dirinya beragama Katolik.

Menurutnya, selama menjalani perkuliahan, dia tidak mengalami diskriminasi berdasarkan latar belakang agama meskipun UM Bandung adalah kampus Islam di bawah naungan Muhammadiyah.

“Saya enjoy bisa kuliah di UM Bandung. Tidak ada diskriminasi terkait latar belakang agama,” ucap Fransisca.

Ketika mengikuti mata kuliah agama, Fransisca memilih memahami berbagai persamaan dan mengesampingkan perbedaan.

Sikap tersebut membuat proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dalam suasana saling menghargai.

Ia mengaku bahagia dapat menjadi bagian dari angkatan pertama apoteker UM Bandung. Menurutnya, dukungan dosen dan fasilitas pembelajaran menjadi bagian penting selama menjalani pendidikan.

Fransisca pun mengajak calon mahasiswa yang ingin menempuh pendidikan profesi apoteker untuk segera daftar ke Prodi Apoteker UM Bandung.

Setelah resmi mengucapkan sumpah di hadapan pimpinan universitas dan keluarga, Fransisca berkomitmen menjalankan profesinya secara profesional dengan menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tanpa memandang latar belakang.

Selain Fransisca, sebelas apoteker lain yang resmi dilantik dan diambil sumpahnya yakni Andriyani Putri Kusuma, Azra Syafira, Eka Nurhayati, Fikta Rialas Lina, Ganjar Permana, Intan Putri Kurniati, Jasmine Trialisa, Mohammad Al-Hafiz, Nafilah Azzahra, Novia Dwiyanti, dan Sintia. Dari dua belas lulusan tersebut, sepuluh orang meraih predikat pujian, dua orang meraih predikat sangat memuaskan dan memuaskan.

Prosesi pengambilan sumpah tersebut menjadi yang pertama digelar oleh Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UM Bandung.

Disaksikan pimpinan universitas dan keluarga, prosesi berlangsung tertib dan khidmat sebagai penanda dimulainya perjalanan profesional para apoteker angkatan pertama UM Bandung.

Selain Rektor, Ketua BPH, dan pimpinan kampus lainnya, hadir pula dalam kegiatan ini tamu undangan berbagai instansi. Mereka adalah perwakilan Kolegium Farmasi Indonesia Hidayat Setiadji, perwakilan APTFMA Aziz, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Epy Yuginingsih,  Pengurus Pusat dan Daerah IAI, serta para perseptor dari lima wahana Praktek Kerja Profesi Apoteker***(FA)

Exit mobile version