Kabar  

Hadirkan Para Ahli, Tiga Kampus Ini Sukses Gelar World Food Day 2022  

KABARINDAH.COM, Bandung – Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) menggelar peringatan World Food Day (WFD) 2022 pada Sabtu (05/11/2022) lalu.

Kegiatan tahunan ini kembali hadir untuk memperingati Hari Pangan Sedunia yang telah berlangsung dari tahun 2019. Kegiatan WFD merupakan kolaborasi antara tiga Program Studi Teknologi Pangan dari UAI, UAD, UM Bandung.

Ketua Panitia Lukman Azis, S.TP., M.Sc. menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya melibatkan dosen, tetapi juga mahasiswa dari masing-masing program studi. Ada 10 mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini yang menjadi panitia dan juga 9 dosen.

“Persiapan kegiatan ini tidak terlalu lama, yakni sekitar satu bulan dengan jumlah personal yang tidak terlalu banyak juga. Namun, registrasi sudah diisi oleh 583 peserta, sedangkan peserta yang hadir mencapai kurang lebih 500 orang,” tutur Lukman.

Selain secara online dengan menggunakan zoom, peserta juga menyaksikan melalui layar Youtube secara live streaming.

Adapun tema kegiatan ini yakni “Food: Trends and Challenge”. Tema tersebut, tutur Lukman, dilatarbelakangi kondisi dunia saat ini yang sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja, khususnya terkait dengan kondisi kesehatan global.

“Penggiat pangan fungsional ini pasti menghadapi berbagai macam hal, baik dalam proses pengembangan produknya maupun pengenalannya di masyarakat. Oleh sebab itu, mengetahui trends and challenges penting untuk kita simak bersama,” terangnya.

WFD 2022 juga dihadiri oleh pimpinan UAD, UAI, dan UM Bandung yang masing-masing dalam sambutanya menyoroti soal pangan fungsional.

Baca Juga:  Daya Saing dan Stunting, Dua Masalah Anak-anak Indonesia yang Harus Diselesaikan

Rektor UAI Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc. dalam sambutanya menyampaikan bahwa pangan memang menjadi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

“Pangan menjadi salah satu kebutuhan pokok dari kita sebagai manusia. Apalagi dikaitkan dengan pangan sehat, pangan halal, yang berfungsi atau fungsional food, yang sekarang menjadi sangat strategis,” tutur Prof Asep.

Informasi mencerahkan

Kemudian Rektor UM Bandung Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU. dalam sambutanya menyampaikan tema yang diusung pada kegiatan ini sangat penting.

Prof Herry mengatakan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi sebaik-baiknya dengan kualitas yang baik dan jumlah yang cukup.

Namun, setiap kelompok masyarakat sangat membutuhkan jenis dan jumlah pangan tertentu dengan kualitas baik yang berbeda-beda.

Oleh karena itulah, kata Prof Herry, masyarakat perlu informasi yang mencerahkan agar kelompok masyarakat yang berbeda-beda dapat mengetahui functional food dan mengaksesnya sehingga mereka dapat mengkonsumsinya.

“Saya berharap kita semua dapat mengetahui manfaat functional food bagi kesehatan dan dapat menyebarluaskan kelebihan dari functional food ini sehingga akan semakin (masyarakat) sehat,” tandas Prof Herry.

Kemudian dari UAD pada kali ini sambutan diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Rusydi Umar S.T., M.T., Ph.D yang menyampaikan bahwa Sustainable Development Goals (SDGs) yang ada 17 poin salah satunya adalah zero hungry artinya dengan adanya pangan ini maka jangan sampai ada yang ketinggalan.

“Jadi, tidak boleh ada yang sampai kelaparan. Mudah-mudahan karena kita sudah membahas fungsional, maka bahan-bahan pokok ini tentu sudah tersedia dan tidak ada yang kelaparan lagi,” katanya.

Baca Juga:  Terus Berinovasi, Kunci Sukses UMKM Kuliner Lewati Masa Pandemi Covid-19

Seminar ini dimoderatori oleh Fahmi Ilman Fahrudi, S.TP., MOFT. yang menyampaikan bahwa World Food Day atau Hari Pangan Sedunia selalu dirayakan setiap tahunnya.

“Selain sebuah Perayaan Hari Pangan Sedunia juga merupakan peringatan untuk kita terus berkontribusi dalam memberikan ide dan gagasan untuk memecahkan masalah pangan, baik di sekitar kita maupun dunia,” katanya.

Sementara itu Prof. Dr. C. Hanny Wijaya yang merupakan keynote speaker sekaligus Ketua Perhimpunan Penggiat Pangan dan Nutrasetical Indonesia (P3FNI) menyampaikan materi dengan judul “Potensi dan Peran Pangan Fungsional Menghadapi Krisis Pangan.”

Bagaimana peran pangan fungsional yang menghadapi era krisis, bagaimana inovasi, kesinambungan pangan, dan peran pangan fungsional.

“Salah satu cara mengatasi krisis pangan adalah menggunakan pangan berbasis tumbuhan, penggunaan pangan secara efisien, no waste policy, dan pangan yang ramah lingkungan,” ungkapnya.

Narasumber dari Direktorat Standardisasi Pangan Olahan BPOM RI Sofhiana Dewi, S.TP., M.Si, menyampaikan bahwa perubahan gaya hidup, perkembangan IPTEK, kesadaran tentang hubungan antara pangan dan kemungkinan timbulnya penyakit, serta peningkatan kesejahteraan, membuat konsumen selektif memilih pangan. Menurut Sofhiana, hal ini merupakan tantangan perusahaan pangan untuk melakukan inovasi.

Peran pemerintah ada dua, baik melindungi konsumen dari pangan tidak aman atau pangan yang dalam labelnya ada keterangan yang menyesatkan, mewujudkan perdagangan yang adil dan bertanggung jawab, sehingga BPOM melakukan regulasi terkait pangan olahan berklaim.

Baca Juga:  FAI UM Bandung dan FTK UIN Sunan Gunung Djati Jalin Kerja Sama

Kemudian pembicara selanjutnya adalah Alvin Yonathan Budiman, S.TP. dari PT Lautan Natural Krimerindo menyampaikan bahwa pangan fungsional adalah pangan olahan maupun segar yang mengandung komponen bermanfaat untuk meningkatkan fungsi fisiologis tertentu atau mengurangi risiko sakit.

Hal tersebut dibuktikan berdasarkan kajian ilmiah harus menunjukkan manfaat dengan jumlah yang bisa dikonsumsi dengan jumlah yang biasa sebagai bagian dari pola makan sehari-hari.

Pertumbuhan functional food makin lama makin meningkat. Hal itu disebabkan oleh populasi yang meningkat, selain enak juga sehat, kesadaran masyarakat akan kesehatan makin meningkat, lifestyle, natural and organic trends, preservative therapies and alternative medication trends, increasing preservative and health spending.

Pembicara pamungkas pada acara ini adalah Assoc. Prof. Yaya Rukayadi yang menyatakan bahwa pada 2050 kita menghadapi tantangan, climate change, pertambahan penduduk.

“Kita harus mencari bahan makanan yang baru atau mencari bahan makanan yang telah dilupakan oleh kita,” katanya.

Functional food sendiri fungsinya untuk fungsi kesehatan. Bagaimana untuk dapat mendapatkan fungsi kesehatan?

Salah satunya adalah dengan mendapatkan active compound sehingga mendapatkan functional seperti antimikrobial, antioksidan, antidiabetic, anti kanker, anti inflamasi, dan aplikasinya banyak bisa dipakai sebagai natural antimikrobial, functional food, drug and development.

Selain itu, banyak komponen functional juga yang bisa didapatkan dari makanan, contoh lycopene, inulin, flavanol, dan sulforaphane and etc. Banyak pangan di sekitar yang kita lupakan, padahal memiliki banyak manfaat seperti guinoa, buni, kenikir, dan sebagainya.***