Ibrah  

Bulan Suci Ramadhan Jadi Momentum Memperbaiki Kualitas Ibadah

Dokumentasi UM Bandung.***

KABARINDAH.COM, Bandung — Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UM Bandung Cecep Taufikurrohman atau akrab disapa Buya Cecep menuturkan bahwa selama melaksanakan saum Ramadhan, sejatinya muslim yang baik akan memahami apa saja yang harus dilakukan dan ditinggalkan.

Ada sebuah hadis yang menginformasikan bahwa setiap awal malam pertama bulan Ramadhan, Rasulullah SAW selalu mengumpulkan para sahabat untuk diberi tahu akan kedatangan syahrun adzim atau bulan yang agung.

Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa di bulan yang mulia ini Allah SWT membuka pintu surga selebar-lebarnya dan menutup pintu neraka rapat-rapat. Rasulullah SAW selalu menyeru kepada yang lain untuk melakukan berbagai kebaikan.

Baca Juga:  Kunjungi Redaksi Ayobandung, Mahasiswa KPI UM Bandung Belajar Jurnalistik Secara Langsung

“Ada banyak kebaikan yang bisa umat muslim lakukan saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Setiap kebaikan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan, Allah SWT akan melipatgandakan setiap pahalanya,” lanjutnya.

Ketika berada di Ramadhan, kata Buya Cecep, umat muslim perlu memastikan bahwa ibadah saum yang dijalankannya itu merupakan ibadah yang salim atau berkualitas dan ikhlas.

Selain itu, umat muslim juga harus melaksanakan berbagai kebaikan lain yang mendukung kualitas ibadah saum Ramadhan agar bisa diterima oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, Buya Cecep mengajak umat muslim untuk selalu memperbanyak amal kebaikan selama Ramadhan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

”Rasulullah SAW memberikan contoh dalam memperbanyak amal saleh, misalnya membaca Al-Quran, zikir, menolong orang lain, dan sebagainya,” imbuhnya.

Baca Juga:  Inspiratif! Mahasiswa Administrasi Publik UM Bandung Raih Penghargaan Duta Genre Jawa Barat

Selain amal kebaikan, ada juga beberapa pantangan yang perlu umat muslim hindari saat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

Di antaranya umat muslim harus meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat, apalagi sampai menyakiti orang lain.

”Allah SWT tidak memiliki kepentingan dengan ibadah seseorang yang melakukan perbuatan tidak bermanfaat dan yang menyakiti orang lain,” ungkap Buya Cecep.

Jika manusia masih menjalankan hal seperti itu, menurut alumnus Universitas Al-Azhar ini, ibadah saum yang dijalankan mereka tidak akan memiliki kualitas apa pun.

”Kita harus bisa menjadikan ibadah saum sebagai pengantar frekuensi kita untuk semakin dekat dengan Allah SWT,” terangnya.

Maka dari itu, menurutnya, umat muslim perlu menjadikan ibadah saum Ramadhan sebagai cara untuk membentengi diri dari segala keburukan.

Baca Juga:  Pembukaan PESONAMU Universitas Muhammadiyah Bandung Dimeriahkan 1.700 Mahasiswa Baru

”Kita harus memposisikan ibadah saum kita sebagai ibadah yang bermutu dan dapat mengantarkan kita ke derajat kemuliaan di sisi Allah SWT,” tandasnya.***(FK)