Ibrah  

Bulan Ramadhan Sebagai Audit Internal Spiritual Sebelum Datangnya Hari Hisab

KABARINDAH.COM, Bandung – Kaprodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Bandung Iman Harjono mengatakan bahwa filosofi akuntansi dapat menjadi sarana audit diri yang mendalam bagi setiap insan pada bulan Ramadhan.

Menurutnya, profesi akuntan yang lekat dengan integritas, transparansi, dan akuntabilitas sejatinya memiliki irisan nilai yang kuat dengan ajaran Islam. Terutama ketika Ramadhan dimaknai sebagai momentum evaluasi spiritual.

Iman Harjono menuturkan bahwa akuntansi tidak semata-mata berbicara tentang angka dan laporan keuangan, tetapi dapat menjadi metafora kehidupan.

Seorang akuntan terbiasa menyusun laporan secara rinci dan akurat, sedangkan dalam kehidupan, setiap manusia pun memiliki “laporan amal” yang kelak diperiksa tanpa toleransi revisi.

“Sebagaimana laporan keuangan harus jujur dan akurat, demikian pula hidup manusia akan diperiksa Allah dengan catatan yang sempurna, tanpa ada yang terlewat,” ujar Iman Harjono saat mengisi Kajian Ramadhan di YouTube UM Bandung pada Jumat (20/02/2026).

Dia mengaitkan hal tersebut dengan pesan Al-Qur’an yang menggambarkan pencatatan amal secara menyeluruh, baik yang kecil maupun besar.

Bagi Iman, kesadaran ini semestinya menumbuhkan sikap hati-hati dalam bertindak, karena setiap ucapan dan perbuatan memiliki konsekuensi spiritual yang akan dipertanggungjawabkan kelak.

Lebih lanjut, Ramadhan diposisikan sebagai audit internal sebelum tibanya hari hisab di akhirat kelak. Dalam praktik perusahaan, audit internal dilakukan untuk memastikan kesiapan sebelum audit eksternal.

Demikian pula Ramadhan menjadi waktu refleksi dan pembenahan diri sebelum pertanggungjawaban akhir di hadapan Allah nanti di yaumil akhir.

“Ramadhan adalah audit internal spiritual yang Allah berikan agar kita sempat memperbaiki catatan hidup sebelum hisab yang sesungguhnya,” ungkapnya.

Kualitas amal

Iman menjelaskan bahwa puasa yang dijalani dengan iman dan harapan kepada Allah merupakan bentuk kasih sayang-Nya kepada manusia.

Melalui ibadah tersebut, setiap orang diberi kesempatan untuk mengoreksi kekeliruan, membersihkan niat, dan memperbaiki kualitas amal agar “laporan hidup” menjadi lebih baik.

Dalam refleksi akuntansi kehidupan, dia memperkenalkan konsep neraca amal. Aset diibaratkan sebagai salat, sedekah, ilmu yang bermanfaat, kejujuran, dan amanah yang menambah nilai pahala.

Sebaliknya, liabilitas berupa dosa lisan, menunda kewajiban, manipulasi, dan kurangnya amanah menjadi beban yang mengurangi nilai amal. Timbangan amal inilah yang kelak menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan manusia.

Menurut Iman, nilai seseorang tidak diukur dari jabatan, gaji, atau prestasi akademik semata, tetapi dari kualitas amal dan integritas yang dijaga sepanjang hidup.

Allah sebagai Al-Hasib, Maha Menghitung, tidak pernah luput mencatat satu pun perbuatan manusia, sehingga akuntabilitas ilahi bersifat mutlak dan adil.

Dia juga menekankan pentingnya niat dalam setiap aktivitas selama Ramadhan. Bekerja, belajar, dan bermuamalah hendaknya diniatkan sebagai ibadah dan amanah.

“Menolak manipulasi dan menjaga kejujuran bukan hanya etika profesi, melainkan investasi amal yang akan kita petik hasilnya di akhirat,” tegasnya.

Menutup refleksinya, Iman mengingatkan bahwa suatu hari nanti bukan laporan keuangan dunia yang digenggam, melainkan laporan amal.

Dia berharap Ramadhan benar-benar menjadi momentum untuk menambah aset amal, mengurangi liabilitas dosa, dan memperkuat integritas sebagai hamba Allah, sehingga setiap insan dapat tersenyum saat kitab amal dibuka, bukan gemetar karena kelalaian.***(FA)

Exit mobile version