Oleh: Ace Somantri*
Rutinitas tahunan dalam syariat Islam, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, memiliki kedudukan yang mengikat dan mendidik.
Salat, misalnya, diwajibkan lima kali dalam rentang 24 jam—Magrib, Isya, Subuh, Zuhur, dan Asar—sebagai kewajiban syariat bagi setiap Muslim mukalaf yang berakal sehat. Rutinitas ini disadari sebagai fondasi disiplin spiritual yang menata kehidupan sehari-hari umat Islam.
Demikian pula Ramadhan, yang disadari sepenuhnya sebagai bulan diwajibkannya ibadah saum selama satu bulan penuh, tanpa terlewatkan kecuali karena uzur syari.
Dalam sejarah kenabian, Nabi Muhammad digambarkan memiliki ikatan emosional yang mendalam dengan Ramadhan. Beliau menyambut kedatangannya dengan hati penuh kegembiraan, dan melepas kepergiannya dengan kesedihan yang mendalam.
Sikap ini menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan momentum ruhani yang sangat dirindukan dan dimuliakan.
Apakah kita mengalami yang sama seperti beliau? Atau sebaliknya, saat datang Ramadhan terasa berat menghadapi dan bergembira saat akan berakhir?
Semoga itu sebuah kritik pada diri sendiri yang memang faktanya tidak jauh seperti hal demikian. Sulit rasanya menduplikasi sikap dan sifat-sifat Rasulullah SAW dalam perjalanan hidupnya.
Tidak dimungkiri sesaat tiba bulan Ramadhan, hampir dipastikan dalam benak pikirin orang-orang muslim Indonesia, selain kewajiban berpuasa, juga sudah terbentuk di alam pikiran pada umumnya umat muslim untuk mudik pulang kampung.
Ditambah dengan keharusan pakaian baru sebagai simbol kebahagiaan dan kemapanan dan tunjangan hari raya sebagai tradisi bonus hasil kinerja. Hal demikian sebuah fakta dan realitas.
Silakan dan boleh-boleh saja selama tidak ada dampak berbuat keburukan. Atau malah justru meningkatkan kebaikan hal itu penting dijadikan spirit dan motivasi.
Hal biasa bagi umat Islam saat beribadah senantiasa dibarengi dengan spirit dan motivasi kuat dalam dirinya. Begitupun di saat bulan Ramadhan, sering yang muncul di permukaan berkaitan dengan motivasi untuk memperkuat spirit ibadah saum.
Misalnya saja seperti bulan penuh berkah, rahmat, dan hidayah serta bentuk motivasi lainnya agar umat muslim semangat beribadah saum dengan khusyuk agar mendapatkan nilai-nilai tersebut.
Sebenarnya, ibadah saum di bulan Ramadhan sebaiknya membangun tradisi yang lebih dari sekadar ibadah bersifat transendental.
Kekuatan moral dalam jiwa dan raga yang bersih dan suci, umat muslim dalam riwayat kisah nyata banyak inspirasi yang tak kalah heroik sebagai kekuatan umat muslim saat beribadah saum.
Peristiwa Perang Badar pada masa Muhammad menjadi contoh nyata kekuatan spiritual puasa. Saat itu, umat Islam tengah menjalankan puasa wajib Ramadhan sehingga secara jasadi mengalami penurunan kondisi fisik.
Jumlah pasukan pun sangat terbatas, hanya sekitar 313 mujahid, berhadapan dengan kaum Quraisy yang jumlahnya melebihi seribu orang.
Namun, spirit saum Ramadhan justru melahirkan daya juang yang berlipat. Jumlah yang yang tidak sebanding itu berubah jadi kekuatan luar biasa.
Kekuatan iman, keteguhan hati, dan keyakinan kepada pertolongan Allah menjadikan 313 mujahid tersebut seolah memiliki tenaga yang melampaui keterbatasan fisik mereka. Hingga akhirnya mampu mengungguli dan mengalahkan musuh dalam pertempuran.
Saum Ramadhan bukan sekadar menahan rasa lapar dan dahaga dari makan dan minum, serta bukan pula hanya mengekang dorongan nafsu untuk berbuat keburukan.
Lebih dari itu, puasa di bulan Ramadhan merupakan proses spiritual yang harus membangkitkan dan menguatkan daya juang dalam melawan berbagai bentuk keburukan, mulai dari kemalasan, kelalaian, hingga sikap negatif lainnya.
Dalam kondisi fisik yang terasa berbeda dari hari-hari biasa, seseorang dituntut untuk tetap berikhtiar dan bersungguh-sungguh. Nilai spiritual yang tertanam kuat dalam jasad justru melahirkan kekuatan halus—soft power—yang mampu mengubah situasi dan kondisi secara progresif dalam mencapai tujuan.
Bahkan, perpaduan antara kekuatan spiritual dan jasmani dalam shaum Ramadhan diyakini memiliki daya pemulihan, membantu meregenerasi sel-sel tubuh yang rusak dan menumbuhkan kehidupan yang baru, baik secara fisik maupun batin.
Ramadhan adalah bulan kekuatan, yakni kekuatan nilai-nilai spiritual dan teologis. Secara kasat mata, kewajiban berpuasa memang membuat kondisi fisik umat muslim tampak mengalami penurunan daya jasmani. Tubuh terasa lebih lemah, ritme aktivitas berubah, dan stamina tidak seprima hari-hari biasa.
Namun jika dipandang secara lebih komprehensif, justru terjadi peningkatan kekuatan batin yang lahir dari dalam jiwa. Spirit ini membangun motivasi untuk tetap bergerak dan berikhtiar, bahkan mampu melampaui kekuatan fisik semata yang tidak disertai energi ruhani.
Oleh karena itu, Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk mengubah cara pandang dan perlakuan terhadap puasa. Dari sesuatu yang dianggap membebani menjadi sarana penyucian dan penyadaran diri.
Alasan kelelahan tidak lagi menjadi dalih untuk berdiam. Namun, pendorong untuk menghadirkan gerak yang lebih bermakna.
Dengan keyakinan yang kokoh, kekuatan spirit jiwa sejatinya mampu bertempur hingga titik penghabisan melawan musuh-musuh internal: kemalasan, rendahnya kepercayaan diri, ketidaksadaran, serta kebergantungan berlebihan kepada orang lain yang pada akhirnya menjadikan sikap dan perilaku tidak produktif.
Pergulatan melawan keburukan, kemaksiatan, dan kemungkaran merupakan keniscayaan bagi manusia yang berakal sehat.
Terlebih lagi, manusia dianugerahi ajaran-ajaran langit yang begitu kaya. Namun, mereka kerap tak termanfaatkan secara optimal karena kapasitas akal dan kekuatan sugesti diri tidak digunakan dengan baik.
Padahal, kemampuan otak manusia dalam mengelola, mengarsipkan, dan menata pengetahuan jauh melampaui perangkat penyimpanan apa pun.
Tidak ada hardisk atau SSD sebesar apa pun yang mampu menandingi potensi storage dalam kepala manusia jika diolah dengan kesadaran dan disiplin jiwa.
Dengan demikian, ketika seseorang menghadapi berbagai persoalan atau merancang langkah-langkah masa depan, seluruh “file” pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam benak—dengan kapasitas storage yang mampu bertahan puluhan bahkan ratusan tahun—dapat diakses secara langsung.
Selanjutnya, ingatan dan pemahaman tersebut disusun kembali secara sistematis, mengikuti pola dan rumusan algoritmik yang terarah, sehingga melahirkan keputusan dan gerak yang lebih tepat serta bermakna.
Dari upaya keras menghindari keburukan penuh maksiat dan munkarat, seharusnya berbanding lurus dengan ruang upaya keras dalam kebajikan yang dijalankan.
Semakin jauh jarak membentang dari ruang-ruang keburukan, akan semakin dekat jarak kebaikan dan kebenaran. Maka semakin dekat pula hasil perjuangan dapat dimenangkan tanpa ada hambatan berarti.
Saum di bulan Ramadhan, dengan kekuatan spiritual yang berlipat, membuka peluang besar untuk melipatgandakan amal kebaikan. Hal ini tampak nyata dalam praktik keseharian umat.
Salat sunah tarawih yang dihadiri oleh banyak jamaah. Bacaan ayat-ayat Kalam Allah yang sebelumnya jarang terdengar, berubah menjadi rutinitas harian dengan target juz tertentu hingga beberapa kali khataman Al-Qur’an.
Selain itu, semangat berzakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tataran personal, puasa juga terbukti mampu meredam gejolak amarah dalam waktu yang relatif singkat, membentuk sikap lebih tenang dan terkendali.
Bahkan dalam ranah profesional, ritme kerja turut menyesuaikan; jam kerja di kantor-kantor pemerintahan, baik pusat maupun daerah, serta lembaga non-pemerintah diatur secara lebih adaptif, termasuk pemanfaatan sarana komunikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan selama Ramadhan.
Pertanyaannya, perbuatan hebat di atas apakah ada dampak terhadap sikap dan perilaku lebih produktif atau hanya menambah semakin merasa hebat yang berujung pada kesombongan dan keangkuhan diri?
Berlipat aktivitas kebaikan seharusnya berlipat produktivitasnya. Namun, jika masih sebanding nilainya, apalagi dikalahkan oleh jumlah keburukan, maka fitnah kemaksiatan akan menghampirinya.
Maka dari itu, penting evaluasi nilai produktivitas dari jumlah ayat Al-Qur’an yang dibaca, sudah berapa rumusan yang dihasilkan dari ayat-ayat-Nya? Berapa jumlah orang miskin berubah menjadi tidak miskin lagi akibat dari jumlah angka berziswaf berjamaah?
Berapa karya cipta dibuat saat banyak waktu karena ruang kerja dikurangi dari kantor? Tentu banyak pertanyaan lainnya, hingga membuat diri malu tak berdaya.
Selama ini bersaum Ramadhan lebih banyak terjebak ritual formal, hanya terpenuhi dan meningkatnya angka kuantitas jumlah ritual. Sementara itu, mengukur indikator angka kualitas, masih jauh dari yang benar-benar diharapkan.
Kadang-kadang kritik tersebut tidak diterima lapang dada. Kita malah marah dan tersinggung. Padahal, jika direnungkan dengan jujur, selama ini puluhan tahun bersaum Ramadhan, memang hanya mengumpulkan data kuantitas jumlah ritual ibadah.
Sementara kekuatan spirit melipat seharusnya melahirkan dan menciptakan karya monumental setiap tahunnya dengan cara bertarget. Jika secara mandiri tidak mampu, maka berkolaborasi lebih efektif, akseleratif, dan juga dinamis hasilnya. Wallahu’alam.
*Wakil Ketua PWM Jawa Barat
