KABARINDAH.COM –Derap tabuhan tambur memecah langit-langit kawasan pecinan Kota Sukabumi. Barongsai berwarna kuning melompat lincah di antara deretan tenant kuliner Odeon Chinatown.
Suasana itu mewarnai gelaran Festival Jajanan Ramadan di Odeon Chinatown pada Ahad (28/2/2026) yang tak sekadar menghadirkan ragam takjil. Ia menjadi ruang temu budaya ketika nuansa Tionghoa berpadu dengan semarak bulan suci.
Manajer Operasional Bazar Ramadan Chinatown, Yudi Prasetya, mengatakan konsep kawasan ini memang tematik Tionghoa. Namun, produk yang dijual tetap berangkat dari kultur street food yang akrab di lidah masyarakat.
“Ini Odeon Chinatown. Konsepnya memang tematik Tionghoa, tapi yang kita jual tetap street food, jajanan jalanan. Variatif, ada makanan China tapi semuanya halal. Kami tidak menjual produk nonhalal,” ujar Yudi.
Di antara lampion merah yang menggantung, pengunjung bisa menemukan aneka minuman segar, camilan tradisional, hingga sajian bergaya oriental yang telah disesuaikan dengan standar kehalalan. Ada pula satu dua pelaku UMKM yang menawarkan parcel Lebaran, serta tenant makanan Korea yang melengkapi pilihan kuliner.
Yudi menuturkan, seluruh tenant telah dikurasi. “Dari awal minuman dan makanan semua halal. Kami juga tidak menjual rokok. Fokus kami benar-benar pada produk street food,” katanya.
Kehadiran barongsai menjadi penanda khas kawasan ini.
Yudi menyebut, pertunjukan barongsai direncanakan hadir rutin setiap pekan sebagai identitas Odeon. “Itu memang menjadi ciri khas Odeon. Mereka support kami, mendukung adanya kuliner Ramadan di sini,” ujarnya.
Momentum Ramadan kali ini juga bertepatan dengan selesainya renovasi kawasan. Reopening yang dilakukan menjelang bulan puasa dimanfaatkan pengelola untuk menggelar bazar hingga sebelum Lebaran.
“Ini momen kami membuka bazar sampai sebelum Lebaran. Tapi bukan berarti hanya event Ramadan saja. Ke depan kemungkinan akan lanjut menjadi food court,” kata Yudi. Tak hanya soal kuliner, kawasan ini juga mengembangkan daya tarik lain.
Di Kompleks Danalaga terdapat museum kecil yang mengisahkan histori pahlawan Tionghoa dan jejak komunitas pecinan di Sukabumi. Pengelola pun tengah merancang pengembangan kawasan dengan menghadirkan Little Shanghai Homestay sebagai bagian dari ekosistem wisata.
“Kami sedang merencanakan Little Shanghai homestay. Nanti ke depan akan ada penginapan di sini. Ini salah satu daya tarik agar UMKM bisa terus berkembang,” ujar Yudi.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa bazar Ramadan di kawasan pecinan bukan sekadar strategi bisnis, melainkan bagian dari upaya merawat toleransi. Ramadan menjadi ruang perjumpaan lintas komunitas—ketika pasar muslim datang berburu takjil, sementara warga sekitar tetap merasakan dampak ekonomi dari ramainya kunjungan.
“Kami menjaga sekali tentang toleransi. Walaupun ini bazar Ramadan untuk muslim, market lain tetap datang karena ada acara di sini. Secara tidak langsung, kami membantu ekosistem yang ada,” kata Yudi.
