Kabar  

TPA Sampah Baru Cikundul Bertahan Hingga 2025, Pemkot Sukabumi Gencarkan Pemilahan Sampah

KABARINDAH.COM, Sukabumi–Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Cikundul Kota Sukabumi yang baru selesai dibangun hanya bertahan selama dua tahun hingga 2025. Kondisi tersebut disikapi pemerintah daerah dengan menggerakan upaya pemilahan atau pengolahan sampah.

” Ada dua isu utama yang dibahas dalam forum perangkat daerah (FPD) yakni lingkungan dan pengelolaan sampah,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi Asep Irawan disela-sela FPD DLH untuk perencanaan 2025 di Hotel Fresh, Selasa (27/2/2024). Dalam FPD ini ada penandatangan komitmen pengurangan sampah dan pembangunan bank sampah unit di tiap kelurahan.

Asep menerangkan, untuk isu lingkungan terkait indeks kualitas lingkungan hidup dari data yang ada Kota Sukabumi mencapai 60 masuk katergori sedang berada di bawah provinsi Jabar. Ada tiga komponen indeks kualitas Lingkungan yakni kualitas udara, air dan tutupan lahan. Mencakup ruang terbuka hijau dan komponen vegetasi hutan kota.

Baca Juga:  Serap Masukan Mahasiswa, Pemkot Sukabumi Komitmen Bantu Warga Terdampak PPKM Darurat

” Untuk pengelolaan sampah yang ditangani 73 persen dibuang ke TPA, dari produksi sampah 184 ton per hari,” ungkap Asep. Sisanya 26 persen ada pengurangan karena ada pemilahan.

Target ke depan lanjut Asep, bagaimana komposisi harus dibalik semangatnya pengurangan diperbesar dan pembuangan diperkecil. Sebab, daerah lain bisa seperti Banyumas 25 persen dibuang ke TPA dan 75 persen diolah

” Harapannya ke depan kondisi ini bisa tercapai,” kata Asep. Upaya yang dilaksanakan dengan mendorong keguatan di wilayah dengan mendasarkan data 40 persen sampah makanan dan kedua 38 persen rumah tangga.

Bagaimana caranya ungkap Asep, pengolahan sampah di lingkungan digencarkan dengan melibatkan aparat wilayah, masyarakat, dan komunitas.

Baca Juga:  UIN Bandung Bedah ALDERA, Gerakan Politik Kaum Muda Era 90-an

Sebelumnya sambung Asep, ada pilot project pengolahan sampah di Kecamatan Cikole dan dapat ditularkan di wilayah lain. Langkah kedua yaitu optimalkan pemanfaata  sampah jadi komoditas bernilai guna.

” Lahan TPA terbatas tidak ada lahan baru. Perlu pemanfaatan sampah bekerjasama dengan berbagai pihak,” ungkap Asep. Misalnya pembicaraan dengan SCG ke depan akan membangun RDF bahan bakar sampah untuk industri semen dan skema Kementerian Pekerjaan Umum membangun RDF dengan biaya APBN yang jadi solusi pengurangan sampah.

Penjabat (Pj) Wali Kota Sukabumi Kusmana Hartadji berharap momen ini dapat merencanakan program terbaik untuk pembangunan di 2025. Terutama dalam masalah lingkungan dan pengelolaan sampah dengan melibatkan semua elemen masyarakat.