KABARINDAH.COM, BOGOR- Penguatan sistem peringatan dini bencana banjir berbasis teknologi menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan kolaboratif antara Palang Merah Indonesia Kota Sukabumi, IPB University, American Red Cross dan Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia melalui Balai Hidrologi dan Lingkungan Keairan (BHLK) Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air.
Pertemuan tersebut dihadiri Prof. Muh.Taufik dari Deparetemen GFM IPB University, Country Representative American Red Cross Delegasi Indonesia Muchrizal Harris Ritonga didampingi Teguh Wibowo sebagai Senior Program Officer, Ketua PMI Kota Sukabumi beserta staf, Serta Kepala Balai Hidrologi dan Lingkungan Keairan Kementerian PU, Indra Kurniawan bersama jajaran teknis.
Dalam pertemuan tersebut dibahas peluang pengembangan teknologi Open River Cam (ORC) sebagai sistem pemantauan debit sungai dan penguatan early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini banjir yang dinilai lebih murah, terbuka, dan mudah diterapkan di Indonesia.
Country Representative American Red Cross Delegasi Indonesia, Muchrizal Harris Ritonga mengatakan bahwa peluang pengembangan teknologi ORC di Indonesia sangat besar mengingat karakteristik wilayah Indonesia yang rawan bencana banjir dan kebutuhan sistem pemantauan yang lebih mudah dijangkau masyarakat.
“Peluang ORC untuk dikembangkan dan diaplikasikan di Indonesia sangat besar karena teknologi ini berbasis open source dan berbiaya lebih murah. Dengan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan organisasi kemanusiaan, sistem ini dapat menjadi bagian penting dalam penguatan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi risiko banjir,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan teknologi berbasis komunitas menjadi langkah penting agar masyarakat dapat memiliki akses lebih cepat terhadap informasi kondisi sungai dan potensi ancaman banjir di wilayahnya.
“Kami melihat peluang kerja sama ini sangat baik untuk dikembangkan bersama. Balai Hidrologi dan Lingkungan Keairan secara umum siap mendukung PMI dan IPB, baik dalam dukungan data, penguatan standar teknis, maupun bimbingan teknis apabila nantinya kerja sama ini diformalkan dalam bentuk perjanjian kerja sama,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, saat ini BHLK juga telah menggunakan teknologi Hydro-STIV dengan dukungan dari Jepang untuk pemantauan debit sungai. Namun teknologi tersebut masih memerlukan biaya operasional yang cukup tinggi sehingga dibutuhkan alternatif sistem yang lebih murah dan mudah dikembangkan secara berkelanjutan.
Selain membahas pengembangan teknologi, pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya pengelolaan dan penyimpanan data kebencanaan di Indonesia. Salah satu poin yang dibahas yakni terkait kemungkinan penyimpanan data ORC pada server di Indonesia guna memastikan keamanan, aksesibilitas, dan keberlanjutan data hidrologi nasional.
Prof. Muh. Taufik dari Departemen GFM IPB University menilai kolaborasi lintas sektor menjadi langkah strategis dalam menghadirkan inovasi teknologi kebencanaan yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk menghadirkan teknologi yang tidak hanya inovatif tetapi juga dapat digunakan secara luas oleh masyarakat dan pemangku kepentingan dalam mendukung pengurangan risiko bencana,” ujarnya.
Ketua Palang Merah Indonesia Kota Sukabumi Suranto Sumowiryo menyampaikan bahwa PMI Kota Sukabumi mendukung penuh pengembangan sistem peringatan dini berbasis teknologi sebagai bagian dari upaya penguatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana hidrometeorologi yang terus meningkat akibat perubahan iklim.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun sinergi berkelanjutan antara pemerintah, akademisi, organisasi kemanusiaan, dan Partner National Society mendukung penguatan sistem mitigasi bencana dan ketangguhan masyarakat di Indonesia.
