KABARINDAH.COM, BANDUNG –PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (RJBB) melalui Fuel Terminal (FT) Bandung bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat melaksanakan studi Penyerapan dan Penyimpanan karbon di atmosfer (Rosot Karbon) di Taman Kehati Kiara Payung, Kabupaten Sumedang, pada Selasa (14/7/2026).
Penelitian yang dilaksanakan di blok asuh Pertamina seluas sekitar 1,9 hektare tersebut merupakan wujud kolaborasi kedua pihak dalam mendukung pelestarian lingkungan serta mitigasi perubahan iklim.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Penyuluh Lingkungan Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat Yulia Budiasih, Lead Operator I Fleet Safety Fuel Terminal Bandung Rafi Fajar Syabani, serta mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Padjadjaran yang turut berpartisipasi dalam penelitian tersebut. Kolaborasi ini menjadi wujud sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan akademisi dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi berbasis sains.
Penelitian dilakukan menggunakan metode ground-based measurement, yaitu pengukuran langsung di lapangan untuk menghitung cadangan karbon pada vegetasi dan tanah. Tim peneliti melakukan pengukuran diameter batang, identifikasi spesies, pengukuran tinggi vegetasi, serta pengambilan sampel tanah pada berbagai jenis pohon, seperti rasamala, damar, puspa, mahoni, angsana, dan gaharu. Data yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk menghitung besaran rosot karbon kawasan Taman Kehati Kiara Payung.
Kegiatan ini bertujuan memperoleh data ilmiah mengenai kemampuan kawasan Taman Kehati dalam menyerap dan menyimpan karbon sebagai bagian dari penguatan pengelolaan kawasan konservasi berbasis sains. Selain mendukung pelestarian keanekaragaman hayati, data yang dihasilkan diharapkan menjadi landasan bagi upaya penurunan emisi gas rumah kaca serta pembangunan rendah karbon di Indonesia.
Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat bersama PT Pertamina Patra Niaga FT Bandung berharap Taman Kehati Kiara Payung dapat terus berkembang sebagai kawasan konservasi yang memiliki fungsi ekologis penting. Selain menjadi habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna lokal, kawasan ini juga diharapkan mampu mengoptimalkan perannya sebagai penyerap karbon yang berkontribusi terhadap upaya mitigasi perubahan iklim, sekaligus memberikan manfaat langsung kepada 12 anggota Kelompok Pengelola Taman Kehati Kiara Payung serta manfaat ekologis bagi sekitar 6.862 penduduk Desa Sindangsari.
Penyuluh Lingkungan Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, Yulia Budiasih menyampaikan bahwa penelitian rosot karbon menjadi langkah penting dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi berbasis data.
“Penelitian rosot karbon ini penting untuk mengetahui kemampuan Taman Kehati Kiara Payung dalam menyerap karbon. Data yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar pengelolaan kawasan konservasi sekaligus mendukung upaya penurunan emisi gas rumah kaca di Jawa Barat,” ujar Yulia.
Salah satu mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Muhammad Yahya Wijaya mengaku memperoleh pengalaman berharga melalui keterlibatannya dalam penelitian tersebut. “Melalui kegiatan ini, kami dapat memahami secara langsung proses pengukuran rosot karbon di lapangan. Pengalaman tersebut memberikan wawasan baru mengenai pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Yahya.
Pjs Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB PT Pertamina Patra Niaga, Reno Fri Daryanto menyampaikan bahwa penelitian rosot karbon menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam memperkuat pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan.
“Pertamina terus berupaya memastikan pengelolaan Taman Kehati Kiara Payung semakin terukur dan berbasis data. Harapannya, kawasan ini dapat terus memberikan manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat di sekitarnya,” ujar Reno.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG poin 15 tentang ekosistem daratan. Ke depannya, pengelolaan Taman Kehati Kiara Payung diharapkan semakin adaptif, terukur, dan berbasis bukti ilmiah sehingga manfaat ekologis kawasan dapat terus dirasakan masyarakat sekaligus memperkuat upaya mitigasi perubahan iklim. (*)
