KABARINDAH.COM, KARAWANG —Jerami yang dulu kerap berakhir dibakar kini memiliki perjalanan berbeda. Sisa panen tersebut dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari kegiatan budidaya dan pengolahan kompos.
Di Desa Pasirtanjung, Kabupaten Karawang, apa yang sebelumnya dipandang sebagai limbah kini menjadi sumber daya yang memberi manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Perubahan tersebut berangkat dari persoalan yang dekat dengan keseharian warga.
Sebagai salah satu wilayah penghasil padi di Karawang, desa tersebut sebelumnya menghadapi pembakaran terbuka jerami sisa panen yang mencapai sekitar 2.450 ton per tahun. Selain persoalan tersebut, masyarakat juga menghadapi tantangan pengelolaan sampah, keterbatasan akses air bersih, hingga kondisi ekonomi yang rentan.
Pendekatan untuk menjawab persoalan tersebut dikembangkan melalui Program Desa Energi Berdikari Prakarsa Bagja Juara, yang dijalankan Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui Fuel Terminal (FT) Cikampek sejak tahun 2022. Program ini mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan energi melalui tiga pilar, yakni Bagja Rukun, Bagja Makmur, dan Bagja Hurip, yang masing-masing berfokus pada penguatan sosial, pemberdayaan ekonomi, serta pemulihan lingkungan.
Salah satu inovasinya adalah Bank Jerami, yang mengubah sisa panen menjadi bagian dari siklus ekonomi sirkular. Jerami dari petani dan buruh tani dikumpulkan untuk dimanfaatkan sebagai media budidaya jamur.
Setelah masa budidaya selesai, sisa media tanam kembali diolah menjadi kompos. Hingga kini, sebanyak 673,9 ton jerami per tahun telah dikelola, bersama 45,72 ton sampah organik dan 46,04 ton sampah anorganik. Pengelolaan tersebut turut berkontribusi terhadap penurunan emisi sebesar 33.742,9 ton CO₂e.
Manfaat program juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Sebanyak 174 kepala keluarga telah memperoleh akses air bersih, sementara 29 orang berhasil lepas dari ketergantungan pada Bank Emok atau pinjaman informal berbunga tinggi. Dari sisi ekonomi, pendapatan masyarakat meningkat 233 persen, dari rata-rata kurang lebih Rp600 ribu menjadi Rp1,95 juta per bulan.
Bank JEKS (Jerami, Eceng Gondok, Keong, dan Sampah Organik) telah menghasilkan pendapatan lebih dari Rp11 juta dan menciptakan penghematan komunal serta rumah tangga sekitar Rp13 juta per bulan.
Ekosistem berkelanjutan tersebut turut diperkuat melalui pemanfaatan energi baru terbarukan. PLTS berkapasitas 6,6 kWp dengan baterai 10 kWh telah terpasang untuk mendukung aktivitas Bank Sampah WISE (Waste Innovation for Social Empowerment), Eco-Pontren Hidayatul Burhan, dan Agro Santri. Sementara itu, sisa makanan dan limbah dapur pesantren dimanfaatkan menjadi biogas untuk kebutuhan memasak.
Di balik perubahan tersebut, ada Endang Sutisna Local Hero Prakarsa Bagja Juara yang sebelumnya berprofesi sebagai pemulung. Endang terlibat dalam penguatan Bank Sampah WISE, edukasi lingkungan, pengelolaan sampah, hingga pengembangan jerami sebagai bagian dari ekonomi sirkular.
“Program Prakarsa Bagja Juara membantu masyarakat mengembangkan potensi yang ada di desa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dari persoalan yang ada, Kami bersama Pertamina mencari solusi yang dapat memberi manfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Endang.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB PT Pertamina Patra Niaga, Reno Fri Daryanto mengatakan bahwa Prakarsa Bagja Juara dikembangkan dengan melihat persoalan masyarakat sekaligus potensi lokal yang dapat diolah menjadi manfaat bersama.
“Persoalan lingkungan tidak bisa berdiri sendiri. Karena itu, Pertamina Patra Niaga mengembangkan program yang dilihat dari potensi yang ada di masyarakat melalui program Prakarsa Bagja Juara dengan menghubungkan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, hingga energi terbarukan agar masyarakat dapat tumbuh bersama dengan lingkungannya,” ujar Reno.
Hingga kini, Prakarsa Bagja Juara telah memberikan dampak kepada 893 individu, melibatkan 12 kelembagaan lokal, dan direplikasi di 10 wilayah sekitar Karawang. Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 7 tentang energi bersih dan terjangkau, poin 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin 13 tentang penanganan perubahan iklim. (*)
