KABARINDAH.COM, BANDUNG – Di kawasan Bandung Utara, perubahan terjadi begitu cepat. Pembangunan permukiman, restoran, dan berbagai aktivitas ekonomi turut mengubah wajah kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah penyangga ekologis Bandung. Ruang terbuka hijau semakin terbatas, sementara keberadaan pepohonan keras yang berperan penting dalam menjaga fungsi resapan air turut terancam.
Di tengah perubahan tersebut, muncul persoalan lain yang tidak kalah penting: semakin jauhnya generasi muda dari akar budaya Sunda. Ketika ruang untuk alam semakin berkurang, ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan melestarikan budaya lokal pun menghadapi tantangan yang sama.
Namun, harapan itu tumbuh dari Desa Cimenyan. Di sana, Satria Yanuar Akbar, generasi awal milenial yang akrab disapa Kang Satria, memilih untuk bergerak.
Sejak Desember 2023, Saung Angklung Udjo bersama dukungan Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (RJBB), Kang Satria mengembangkan berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat melalui program Kampung CSV Udjo Ecoland. Bagi Kang Satria, pelestarian lingkungan dan budaya bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya merupakan bagian dari identitas dan masa depan masyarakat Cimenyan yang perlu dijaga secara bersama-sama.
Melalui program tersebut, berbagai kegiatan dilakukan mulai dari penanaman pohon bambu dan pohon keras, pelestarian angklung melalui penciptaan seniman baru, pelatihan tari tradisional, hingga pengembangan kembali kuliner lokal seperti peuyeum dan cincau. Upaya tersebut sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk melihat bahwa budaya lokal bukan sekadar peninggalan masa lalu.
Tetapi dapat menjadi bagian dari kehidupan, kreativitas, bahkan peluang masa depan mereka. Salah satunya adalah Andika Putra, yang sebelumnya tidak banyak melihat budaya Sunda sebagai bagian dari masa depannya.
“Dulu saya dan anak-anak muda di sini lebih tertarik untuk bekerja di luar desa. Namun, setelah dipahamkan oleh Kang Satria, kami sadar bahwa kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan budaya Sunda ini? Alhamdulillah, melalui angklung saya bahkan bisa sampai ke luar negeri,” ujar Andika.
Kisah Andika menunjukkan pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga kesenian atau benda-benda tradisional. Yang lebih penting adalah menciptakan generasi penerus yang memiliki rasa bangga terhadap budayanya sendiri.
Dengan dukungan Pertamina, Kampung CSV Udjo Ecoland kini terus berkembang menjadi ruang pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan aspek budaya, lingkungan, dan ekonomi. Berbagai sarana dan prasarana telah dibangun untuk mendukung kegiatan pelatihan angklung dan tari, termasuk bantuan peralatan pengolahan kuliner lokal. Di sisi lingkungan, program ini juga dilengkapi dengan fasilitas pengelolaan sampah terpadu yang menerapkan konsep ekonomi sirkular.
Hingga saat ini, tercatat 11.711 pengunjung telah menikmati fasilitas dan mengikuti berbagai aktivitas di Kampung CSV Udjo Ecoland. Kehadiran para pengunjung turut memperluas jangkauan pesan mengenai pentingnya pelestarian budaya dan lingkungan di tengah masyarakat.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional JBB, Reno Fri Daryanto, menyampaikan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya berbicara mengenai peningkatan ekonomi, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu menjaga identitas, lingkungan, dan potensi lokal yang dimiliki. “Bagi Pertamina, keberlanjutan bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang dengan kekuatan yang mereka miliki sendiri. Apa yang dilakukan Kang Satria bersama masyarakat Cimenyan menunjukkan bahwa pelestarian budaya, lingkungan, dan pengembangan ekonomi dapat berjalan bersama dan saling menguatkan,” ujarnya.
Menurut Reno, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci agar upaya pelestarian budaya dapat terus berlangsung dan memberikan dampak dalam jangka panjang. “Ketika anak-anak muda mulai bangga memainkan angklung, mengenal tari tradisional, mengembangkan kuliner lokal, dan pada saat yang sama ikut menjaga lingkungannya, di situlah keberlanjutan benar-benar tumbuh. Kami ingin ruang seperti Kampung CSV Udjo Ecoland terus menjadi tempat bagi masyarakat untuk belajar, berkarya, dan menciptakan manfaat yang lebih luas,” tambahnya.
Ke depan, Kang Satria bersama Pertamina akan terus mengembangkan Kampung CSV Udjo Ecoland agar memberikan dampak yang semakin luas serta menjangkau lebih banyak penerima manfaat. Pengembangan program diarahkan tidak hanya pada keberlanjutan aktivitas seni dan budaya, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat, pengembangan potensi ekonomi lokal, serta upaya menjaga kelestarian lingkungan Cimenyan.
Pada saat yang sama, keterlibatan aktif generasi muda dalam pelestarian angklung, tari tradisional, kuliner, dan lingkungan turut mendukung Asta Cita ke-4, terutama dalam memperkuat peran pemuda sebagai generasi penerus dalam menjaga sekaligus mengembangkan kekayaan budaya Indonesia. Dari Desa Cimenyan, semangat terus bertumbuh, merawat alam, dan menghidupkan budaya. (*)
