Perbaiki “Coretan” pada Anak

  • Bagikan

Oleh Tina Haryati SPdI, MPd

PNS Kemenag Kabupaten Karawang/Alumnus Pascasarjana STAI Sukabumi

Seorang anak ibarat kertas putih tanpa coretan. Fitrah seorang anak adalah bersih, kepolosan yang jernih, kesucian kalbu, jiwa yang belum terkontaminasi, kreativitas tanpa batas, lucu dan menggemaskan, serta memiliki kebeningan hati.

Peran orangtualah yang menentukan goresan apa yang hendak dilukiskan pada anak, apakah coretan yang melukai, atau hiasan kaligrafi yang indah dan menentramkan?

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari Muslim).

Jika orang tua terlanjur menggoreskan coretan-coretan yang tidak beraturan maka kewajiban bagi orang tua untuk menghapus kembali coretan-coretan itu untuk kemudian diganti dengan lukisan pelangi yang indah. Penghapusan terhadap “coretan-coretan tadi tidak perlu dilakukan sebenarnya, jika saja sejak awal orang tua sudah melakukan pencegahan. Pola asuh yang tepat sejak awal akan mencegah terjadinya masalah pada diri anak. Jikapun terlajur terjadi maka berikut beberapa perbaikan yang dapat dilakukan

  • Mengatasi Anak Penakut

Tiada kasih sayang di dunia ini yang melebihi kasih sayang orang tua pada anaknya. Namun jangan sampai kasih sayang ini ditunjukan dalam bentuk pola asuh yang overprotektif , yang pada akhirnya malah ‘melumpuhkan’ kemampuan anak. Hindari kebiasaan menakut-nakuti anak meskipun hal itu dilakukan orang tua agar anaknya tidak terluka, akan tetapi kebiasaan ini akan menyebabkan anak menjadi penakut dan dan mudah menyerah.

Jauh lebih baik jika orang tua memberikan pemahaman kepada anak dengan memberikan informasi yang jelas termasuk risiko yang akan dihadapi, yang terpenting bagi anak adalah kesiapan dan penguasaan untuk menghadapi tantangan dalam hidupnya, bukan lari dari semua tantangan dan berakhir sebagai pengecut bahkan sebelum mengetahui medan perjuangannya.

  • Mengatasi Anak Cengeng

Kekhawatiran yang berlebih dari orang tua akan menyebabkan pola asuh overprotektif yang dapat membuat anak menjadi cengeng. Khawatir boleh-boleh saja, namanya juga orang tua sama anak, tapi jangan tunjukan rasa khwatir yang berlebihan di depan anak, sesekali bersikaplah tegas terhadap anak. Tidak perlu semua keinginan anak dipenuhi. Jangan biasakan anak untuk menjadikan tangisan sebagai senjata ampuh untuk memenuhi keinginanya.

Ketika membiarkan anak menangis orang tua mungkin akan merasa “kejam” karena tidak mengabulkan permintaaanya. Namun selalu mengabulkan permintaan anak, bukan pula hak yang baik. Yang diperlukan oleh seorang anak adalah rasa aman, ketika anak menangis, peluklah ia dengan erat. Satu, dua menit kemudian yakinkan bahwa dengan ijin Alloh swt, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.

Katakan pada anak “sabar ya sayang, nanti kamu boleh memilikinya jika Allah mengizinkan, maka semua akan mudah, Sayang hafalkan al ikhlas dulu nanti bunda belikan” memberikan syarat untuk mendapatkan yang dia inginkan menjadi pelajaran bagi anak bahwa untuk mendapatkan sesuatu ia harus berusaha terlebih dahulu. Ingatlah untuk mengingat hal baik yang pernah dilakukan anak dan berilah pujian saat ia berhenti menangis. “Duuh pinternya anak bunda, anak bunda memang baik ya waktu bunda sakit juga Sayang, bawain bunda minum dan bacain do’a ya buat bunda” dan pujian-pujian yang lainnya.

  • Mengatasi Anak yang Pemalu

Mengajarkan anak memiliki rasa malu itu penting. Tapi memiliki anak yang pemalu, itu masalah. Hindari kebiasaan menonton televisi atau bermain gadjet, karena hal ini akan membuat anak menjadi penyendiri dan kurang berinteraksi dengan teman sebayanya. Ajak anak untuk bersilaturahim dengan sahabat atau kerabat yang memiliki anak sebaya. Berikan dorongan dan pujian saat anak tampil berinteraksi dengan sebayanya.

Berikan, senyuman atau bahasa tubuh seperti angkat dua jempol untuk anak. Hindari kata-kata yang akan membuat dia kehilangan percaya diri misalnya dengan berkata di depan orang banyak “diamah memang pemalu anaknya”, “ah mana berani, kalau ada tamu saja dia ngumpet” dan ucapan lainnya yang serupa.

Meskipun orang tua mengetahui kalau anaknya pemalu tapi orang tua tidak harus mengatakan itu di depan umum, apalagi disitu ada anaknyapula. Mari perbaiki ‘Coretan-coretan” yang terlanjur membuat luka, perbaiki perlahan dengan kelembutan, goreskan  sebuah lukisan  pelangi yang indah yang akan menghapus semua “coretan” itu. (*)

  • Bagikan