Pekerja Vs Kontributor di Dunia yang Kompetitif

  • Bagikan

Oleh Dr. Budi Santoso
Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

 

“Janganlah jadi pekerja, jadilah kontributor.” Katanya, itulah kalimat yang harus direnungkan untuk mengubah mindset kita dalam bekerja.

Kalau kita sudah lulus sekolah dan memasuki dunia kerja. Jangan kita berharap dibayar karena kita telah bekerja, tetapi kita dibayar karena berkontribusi, memberikan suatu “hasil” untuk organisasi melalui apa yang kita kerjakan.

Ada perbedaan prinsip antara bekerja dengan berkontribusi?

Bekerja, kita dapat saja bekerja dan sibuk seharian, namun tidak ada yang dapat dikontribusikan kepada pemberi kerja. Kita terlihat kerja namun tidak ada hasil, sok sibuk, wara-wiri tidak jelas. Percayalah tidak akan ada yang sudi membayar Anda.

Berbeda kalau Anda sebagai kontributor, meskipun Anda terlihat tidak bekerja namun menghasilkan dan bermanfaat bagi organisasi.

Sepertinya dunia kerja sangat “kejam”, orang hanya akan dibayar karena kontribusinya. Bukan atas usahanya. Hal ini terjadi karena organisasi dituntut target untuk mencapai tujuannya.

Sebagai contoh sederhana, dalam bisnis kurir atau logistik. Seorang kurir hanya mendapat bayaran dari jumlah paket yang terantar, dan sampai ke penerima. Untuk paket yang tidak sampai terkirim jangan harap dapat bayaran, apapun alasannya. Bayaran per paket sekitar 5-10 ribu dengan target minimal 150-200 paket terkirim setiap hari. Semacam itulah “permainan” dunia kerja sesungguhnya.

Kita tidak bisa sibuk merencanakan dan berproses, ketika tanpa hasil sepertinya tidak akan dihargai.

Kita membutuhkan loyalitas yang total yaitu setia, taat, dan memberikan suatu hasil atau kontribusi kepada organisasi. Karena kontribusi ini yang sering berdampak rezeki, berupa bonus, promosi dan naik gaji.

Bagaimana dengan loyalitas dalam pengertian yang sempit, yaitu disiplin dan taat aturan, namun tanpa hasil. Kalau ini yang Anda lakukan, Anda akan tetap dihargai, hanya dengan upacara penyerahan selembar surat penghargaan tanda terima kasih atas kesetiaan dan pengabdian. Dan mungkin disertai cincin seberat 5 gram, setiap 5 tahunan.

Organisasi dalam dunia yang kompetitif, membutuhkan kontributor yang dapat memberikan hasil kerja untuk organisasi bukan seorang abdi yang setia, organisasi tidak mendapatkan apa-apa.

Silahkan Anda memaknai pekerjaan sesuai selera. Tanpa hasil yang dapat dikontribusikan, saya yakin tidak akan ada yang sudi membayar Anda.

Semangat bekerja dan kesetiaan yang anda berikan, sepertinya tidak cukup untuk organisasi Anda. Sekarang kalau Anda setiap hari berangkat ke tempat kerja, ditanya oleh anak Anda, “Akan pergi kemana?”

Sebaiknya menjawab apa ya? Pergi bekerja. Pergi cari duit. Atau menghasilkan sesuatu? Atau yang lainnya?

 

 

 

 

 

 

 

  • Bagikan