KABARINDAH.COM–Langkah-langkah kaki pengunjung terdengar bergema pelan di dalam Museum Pegadaian yang berlokasi di Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi. Di antara etalase kaca dan benda-benda tua yang tersusun rapi, suasana libur Lebaran terasa berbeda lebih tenang, namun sarat makna.
Alih-alih memilih destinasi hiburan yang ramai, sebagian warga justru memadati Museum Pegadaian satu-satunya di Indonesia ini. Mereka datang bukan sekadar berjalan-jalan, tetapi juga menyusuri jejak sejarah yang pernah membentuk denyut ekonomi masyarakat kecil di Indonesia.
Pada Kamis (26/3/2026) lalu misalnya tercatat 60 orang berkunjung. Sehari kemudian, Jumat (27/3/2026), jumlahnya mencapai 50 orang.
Para pengunjung tak hanya berasal dari Sukabumi, tetapi juga dari berbagai kota seperti Surabaya, Jakarta, Depok, hingga Bandung. Dalam kondisi normal, kunjungan ke museum ini berkisar antara 700 hingga 900 orang per bulan, bahkan sempat melonjak hingga 1.400 orang pada November 2025 lalu.
“Di momen Lebaran ini, banyak yang datang sambil berwisata, tapi juga ingin belajar sejarah,” ujar Koordinator Museum Pegadaian Sukabumi, Fauziah Thoyibah. Bagi para pelajar, museum ini menjadi ruang belajar yang hidup.
Rombongan siswa dari Sukaraja dan Cianjur kerap datang untuk menyelesaikan tugas sekolah, sembari mengenal lebih dekat perjalanan panjang Pegadaian di Indonesia.
Apalagi, seluruh fasilitas di museum ini dapat dinikmati secara gratis. Museum buka setiap Selasa hingga Minggu, pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Di dalamnya, tersimpan berbagai koleksi yang merekam perjalanan waktu. Salah satu yang paling tua adalah buku panduan pegawai tahun 1933.
Ada pula beragam peralatan kerja masa lampau, sebagian besar berasal dari Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang memperlihatkan bagaimana sistem gadai dijalankan di masa lalu.
Menariknya, museum ini juga menyimpan cerita tentang perubahan zaman. Dahulu, barang-barang seperti kain batik, piring, hingga dandang bisa digadaikan. Kini, benda-benda tersebut tak lagi memiliki nilai gadai.
Dari situ, pengunjung bisa melihat bagaimana nilai ekonomi dan kebutuhan masyarakat terus bergeser. Namun, daya tarik utama museum ini terletak pada sejarah besarnya.
Sukabumi bukan sekadar lokasi museum, melainkan tempat lahirnya Pegadaian negeri pertama di Indonesia pada 1 April 1901. Pendirian ini merupakan tindak lanjut dari penelitian pemerintah Hindia Belanda yang dipimpin De Wolf van Westerrode, yang menyimpulkan bahwa Pegadaian mampu membantu masyarakat kecil sekaligus menekan praktik rentenir.
Lebih dari satu abad kemudian, kisah itu tetap terjaga di ruang-ruang museum ini. Di tengah hiruk-pikuk libur Lebaran, Museum Pegadaian Sukabumi menghadirkan pengalaman berbeda: wisata yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi pemahaman.
Di tempat ini, sejarah tidak sekadar dipajang ia diceritakan kembali, pelan-pelan, kepada siapa saja yang ingin mendengarkan.
