KABARINDAH.COM, Sukabumi – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi mencatat sebanyak 23 kasus campak terjadi sejak akhir 2025 hingga Maret 2026. Kasus tersebut ditemukan setelah petugas melakukan pemantauan dan penyelidikan aktif terhadap warga yang mengalami gejala penyakit menular tersebut.
Kepala Dinkes Kota Sukabumi Ida Halimah mengatakan, meski terdapat temuan kasus campak, hingga kini kondisi tersebut belum memerlukan penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB). “Belum sampai pada penetapan KLB, namun upaya pencegahan tetap kami lakukan secara intensif agar penyebaran tidak meluas,” ujarnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Sukabumi Denna Yuliavina menjelaskan, selama periode tersebut pihaknya menemukan 32 kasus suspect campak. Namun setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, hanya 23 kasus yang dinyatakan positif.
“Indonesia sendiri berada di peringkat kedua tertinggi kasus campak setelah Yaman. Di Jawa Barat ada sembilan daerah yang sudah menetapkan KLB, namun alhamdulillah Kota Sukabumi belum,” kata Denna. Ia menyebut, meskipun sempat terjadi peningkatan kasus pada 2025, jumlah kasus di awal 2026 mulai menunjukkan tren penurunan.
Selain itu, hingga kini juga belum ditemukan kasus kematian akibat campak di Kota Sukabumi. Untuk mencegah penyebaran penyakit, masyarakat diminta tetap waspada dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Penggunaan masker juga dianjurkan terutama saat berada di kerumunan. “Apalagi saat ini memasuki periode arus mudik yang berpotensi meningkatkan mobilitas dan kerumunan masyarakat. Jika memungkinkan tetap menjaga jarak, memakai masker, menerapkan PHBS, dan mengonsumsi makanan bergizi,” jelasnya.
Denna juga menekankan pentingnya imunisasi dasar lengkap bagi anak, khususnya balita. Berdasarkan data Dinkes, cakupan imunisasi dasar lengkap di Kota Sukabumi pada 2025 telah mencapai 98,9 persen, melampaui standar nasional.
“Namun masih ada sekitar 1,1 persen balita yang belum mendapatkan imunisasi. Hal ini bisa dipengaruhi berbagai faktor, baik dari orang tua maupun akses layanan imunisasi,” ujarnya. Ia pun mengingatkan para orang tua untuk memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang cukup serta menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah penyebaran campak.
