Imam Muhammad Ibn Sirin: Ulama Saleh nan Zuhud yang Menulis Kitab Tafsir Mimpi (Bag-2)

  • Bagikan

KABARINDAH.COM — Seseorang menanyakan pendapat Imam Ibn Sirin tentang tafsir mimpi. Ibn Sirin menjawab, “Takutlah kepada Allah ketika engkau jaga, dan jangan khawatir tentang apa yang engkau lihat dalam mimpi.” Ketika ia diminta untuk memberi pendapat dari sudut pandang agama ihwal dua tafsir yang mirip, ia memilih yang paling dekat dengan kitab Allah. Ia pernah berkata, “Pada dasarnya, pengetahuan ini diambil dari agama kita. Jadi, perhatikan dengan baik dari siapa engkau mempelajarinya!”

Musa ibn al-Mughirah pernah berkata, “Aku melihat Muhammad Ibn Sirin pergi ke pasar di tengah hari. Ia begitu khusyuk dalam doanya, mengagungkan dan memuji Allah. Seseorang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Bakar (diambil dari nama ayahnya), apakah ini waktu untuk membacakan doa-doa itu?’ Ibn Sirin menjawab, “Ketika berada di tengah pasar, orang dapat tertipu oleh gemerlapnya dan menjadi lupa pada kewajibannya.”

Suatu ketika, panggilan azan terdengar tatkala mereka sedang mengadakan pertemuan. Ketika orang-orang berdiri untuk melaksanakan salat, Imam Ibn Sirin berkata, “Biarlah orang yang paing fasih membaca Alquran mengimani kita, karena di antara kita ada orang-orang yang sudah menghafalnya.” Setelah selesai salat berjamaah, Ibn’Awn bertanya kepada Imam IbnSirin, “Mengapa engkau menolak menjadi imam salat? Ia menjawab, “Aku tidak ingin orang-orang berkata, ‘Ibn Sirin mengimani salat kita malam ini.”

Imam Ibn Sirin sering menolak barang-barang halal sekalipun, karena takut akan menyimpangan. Ia sering diundang ke pesta pernikahan, dan sebelum meninggalkan rumah, ia meminta pada keluarganya, “Beri aku makanan yang manis-manis!” Merka menjawab, “Bukankah engkau akan pergi ke pesta pernikahan dan engkau akan memperolehnya di sana?”

Ia menjawab, “Aku tidak suka memuaskan rasa laparku dengan makanan orang lain.” Ia juga sering berkata, “Jangan bebani saudaramu dengan sebuah pemberian lebih besar dari apa yang dapat ditanggungnya.” Hisyam ibn Hasan pernah berkata, “Ketika Hind binti al-Muhallab mengundang Hasan al-Bashri dan Ibn Sirin untuk makan, Hasan pasti datang, sedangkan Ibn Sirin menolak.”

Pernah Imam Ibn Sirin menolak sebuah hadiah senilai empat puluh ribu dirham karena ragu-ragu tentang kehalalan sumbernya. Ketika mengomentari tindakan ini, Sulayman at-Taymi berkata, ”Ia menolak karena tak seorang ulama pun akan berbeda pendapat tentang ketidaksahannya.” Ketika Ibn Sirin ditanya tentang dua saudara yang kemudian menjadi saling bermusuhan, ia menjawab, “Kejahatan menyelinap di antara mereka.”

Ibn Zuhayr pernah berkata, “Setiap kali kata kematian disebutkan di hadapan Ibn Sirin, seluruh tubuhnya bergetar.” Ketika Imam Ibn Sirin berbaring menjelang kematiannya, ia berkata pada anak laki-lakinya, “Anakku! Bayarkan utang-utangku. Bayarkan apa yang kupinjam dari orang lain.”

Anaknya menjawab, “Wahai ayahku, apakah aku harus membebaskan seorang budak atas namamu?”

Ibn Sirin menjawab, “Allah Yang Mahakuasa berkuasa memberi aku dan engkau apa-apa yang baik yang engkau lakukan atas namaku.”

Imam Ibn Sirin wafat di Kota Bashrah pada 110 H (729 M) di usia tujuh puluh enam.

sumber: Kitab Tafsir Mimpi Ibnu Sirin

  • Bagikan