KABARINDAH.COM, Bandung- First Aid Indonesia bersama program Gerakan Relawan untuk Relawan sukses menyelenggarakan Pelatihan Operator Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Umum Skema BNSP secara daring pada 30–31 Mei 2026. Kegiatan yang diberikan secara gratis ini diikuti oleh puluhan anggota Korps Sukarela (KSR) PMI dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.
Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas relawan agar memiliki kompetensi yang tidak hanya bermanfaat dalam menjalankan tugas kemanusiaan, tetapi juga dapat menjadi bekal profesional di dunia kerja. Selama dua hari pelaksanaan, peserta mendapatkan materi terkait dasar-dasar keselamatan dan kesehatan kerja, identifikasi bahaya, penilaian risiko, pengendalian risiko, hingga penerapan budaya keselamatan dalam berbagai aktivitas lapangan.
Founder Yayasan First Aid Indonesia, Indra Yogasara, mengatakan bahwa pelatihan ini lahir dari kepedulian terhadap kebutuhan relawan untuk terus berkembang dan memiliki kompetensi yang diakui secara nasional.
“Melalui Gerakan Relawan untuk Relawan, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang dapat diakses oleh seluruh relawan PMI di Indonesia. Kami percaya bahwa setiap individu yang mendedikasikan dirinya dalam kegiatan kemanusiaan layak mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kapasitas dan memperoleh kompetensi terbaik yang dapat mendukung tugas kemanusiaan maupun kehidupan profesionalnya,” ujar Indra.
Menurutnya, tujuan utama pelatihan ini adalah menginkubasi dan mempersiapkan kapasitas prima anggota KSR PMI dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
“Sertifikasi Operator K3 Umum memiliki manfaat yang sangat luas bagi relawan. Selain meningkatkan keselamatan saat menjalankan tugas kemanusiaan, kompetensi ini juga membuka peluang karier sebagai tenaga Health, Safety and Environment (HSE) Officer di berbagai sektor industri. Kami ingin para relawan tidak hanya kuat dalam pengabdian, tetapi juga memiliki daya saing dan kompetensi yang diakui secara profesional,” jelasnya.
Indra menambahkan bahwa kemampuan K3 juga sangat penting dalam mendukung keselamatan relawan saat bertugas di lapangan, terutama dalam operasi tanggap darurat dan kebencanaan.
“Dalam berbagai operasi kemanusiaan, relawan sering bekerja di lingkungan yang memiliki risiko tinggi. Dengan memahami prinsip-prinsip K3, relawan dapat mengurangi risiko cedera, meningkatkan keselamatan diri dan tim, serta memberikan pelayanan yang lebih efektif kepada masyarakat terdampak. Keselamatan relawan adalah bagian penting dari keberhasilan misi kemanusiaan,” katanya.
Lebih lanjut, Indra menjelaskan bahwa pemilihan skema Operator K3 Umum didasarkan pada kebutuhan kompetensi yang relevan dengan dunia kerja maupun aktivitas kerelawanan.
“Kompetensi Operator K3 Umum memberikan pemahaman tentang kepatuhan terhadap regulasi keselamatan kerja, kemampuan melakukan manajemen risiko, serta meningkatkan daya saing relawan melalui sertifikasi yang diakui secara nasional. Ini menjadi investasi jangka panjang bagi setiap relawan yang ingin terus berkembang,” tambahnya.
Sementara itu, fasilitator sekaligus instruktur First Aid Indonesia, Dadang Koswara, yang akrab disapa Abah Dadang, menjelaskan bahwa seluruh materi pelatihan disusun berdasarkan standar kompetensi nasional yang berlaku.
“Pelatihan ini mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Nomor 038 Tahun 2019 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Adapun skema yang digunakan adalah Sertifikasi Operator K3 Umum dengan Nomor Registrasi Skema SKM-102-001/OPRK3/VI/2019. Dengan demikian, seluruh proses pembelajaran berbasis kompetensi dan memiliki landasan hukum yang jelas serta diakui secara nasional oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP),” terang Abah Dadang.
Ia menambahkan bahwa pemahaman terhadap aspek keselamatan dan kesehatan kerja menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap relawan yang terlibat dalam kegiatan kemanusiaan.
“Banyak potensi bahaya yang dapat ditemui relawan ketika bertugas, baik saat evakuasi, distribusi bantuan, pelayanan kesehatan maupun penanganan pengungsian. Karena itu, kemampuan mengenali bahaya, menilai risiko, dan menyusun langkah mitigasi harus menjadi keterampilan dasar yang dimiliki oleh setiap relawan,” ujarnya.
Menurut Abah Dadang, sertifikasi kompetensi juga menjadi bukti bahwa seseorang telah memiliki standar kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan operasional lapangan.
“Sertifikat bukan sekadar dokumen, tetapi merupakan pengakuan atas kompetensi yang dimiliki seseorang. Ketika relawan memiliki sertifikasi yang kredibel dan diakui secara nasional, maka kepercayaan terhadap kemampuan mereka juga akan meningkat, baik dalam lingkungan kerja maupun saat bertugas dalam operasi kemanusiaan,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Abah Dadang juga menyampaikan apresiasi atas tingginya antusiasme relawan PMI dari seluruh Indonesia yang mengikuti program ini.
“Kami sangat mengapresiasi semangat belajar rekan-rekan KSR PMI dari Sabang sampai Merauke. Antusiasme yang luar biasa ini menunjukkan bahwa relawan Indonesia memiliki keinginan kuat untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Untuk menjaga kualitas pembelajaran dan efektivitas penyampaian materi, pelatihan ini kami bagi menjadi dua gelombang pelaksanaan,” katanya.
Tingginya minat peserta membuat First Aid Indonesia bersama Gerakan Relawan untuk Relawan kembali membuka Batch 2 Pelatihan Operator K3 Umum Skema BNSP yang akan dilaksanakan pada 20–21 Juni 2026.
Melalui kegiatan ini, First Aid Indonesia menegaskan komitmennya sebagai wadah inisiatif kemanusiaan yang berfokus pada pendidikan, pemberdayaan, dan peningkatan kualitas kapasitas relawan. Dengan membekali relawan melalui kompetensi yang terstandarisasi dan diakui secara nasional, diharapkan lahir sumber daya manusia kemanusiaan yang lebih profesional, aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang.
