Kabar  

Empat Fondasi Mahasiswa UM Bandung Menuju Islamic Technopreneurial University

KABARINDAH.COM, Bandung — Pendidikan tinggi tidak hanya ditujukan untuk membentuk mahasiswa yang berilmu. Namun, bagaimana mampu melahirkan pribadi yang berakhlak, mandiri, mampu memimpin, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Hal itu disampaikan Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dikdik Dahlan Lukman dalam Baitul Arqam Mahasiswa Baru UM Bandung yang berlangsung Kamis–Jumat (24–25/9/2026) di Auditorium KH Ahmad Dahlan.

Dalam materi bertajuk “Kampus Islamiku: Islamic Technopreneurial University”, Dikdik menjelaskan empat konsep kunci yang menjadi bekal mahasiswa UM Bandung, yaitu karakter islami, kemandirian, leadership, dan kebermanfaatan.

Menurut Dikdik, keempat aspek tersebut saling berkaitan dalam membentuk pribadi mahasiswa UM Bandung yang unggul sekaligus mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, agama, dan negara.

Karakter Islami Menjadi Fondasi

Dikdik mengatakan, karakter islami tidak terbentuk secara instan. Namun, mahasiswa perlu memahami nilai-nilai Islam sekaligus membiasakannya dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Ia menjelaskan empat tingkatan kepribadian, yaitu muslim, mukmin, muhsin, dan muttaqin.

Pada tahap muslim, mahasiswa diarahkan meneladani akhlak nabi, bersikap jujur, amanah, dan rajin beribadah.

Selanjutnya, seorang mukmin dituntut memiliki keyakinan kepada Allah, hati yang bersih, dan ikhlas dalam beramal.

Adapun muhsin merupakan pribadi yang senantiasa berbuat baik dan merasa diawasi Allah. Sementara itu, muttaqin digambarkan sebagai pribadi yang baik dan konsisten, membawa kedamaian, peduli terhadap kehidupan sosial, dan berpikir positif.

“Karakter islami bukan sesuatu yang langsung sempurna. Ada tingkatan yang perlu kita pahami dan capai satu per satu,” kata Dikdik.

Ia menekankan, pembentukan karakter membutuhkan proses yang berkelanjutan. Nilai-nilai Islam perlu dibangun menjadi kebiasaan hingga melekat dalam kepribadian mahasiswa.

Kemandirian dan Leadership

Selain karakter islami, Dikdik menekankan pentingnya kemandirian dan leadership sebagai bekal mahasiswa UM Bandung menghadapi persoalan kehidupan yang semakin kompleks.

Kemandirian mencakup kemampuan berpikir kreatif dan inovatif, bekerja sama, serta menyelesaikan masalah.

Sementara itu, leadership tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memimpin, tetapi memberdayakan orang lain dan menciptakan nilai positif.

“Kemandirian dan leadership adalah dua kemampuan yang saling melengkapi untuk membentuk technopreneur muslim yang tangguh,” ujarnya.

Dalam konsep Islamic Technopreneurial University, kata Dikdik, kemampuan tersebut diarahkan pada prophetic leadership, yakni kepemimpinan yang membawa nilai-nilai Islam dalam dunia teknologi dan bisnis.

Dikdik menggambarkan kepemimpinan tersebut sebagai kemampuan untuk “memimpin, memberdayakan orang lain, melayani Allah, dan menciptakan nilai positif.”

Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu mengembangkan potensi diri, tetapi dapat menggerakkan dan memberikan dampak positif bagi orang lain.

Kebermanfaatan menjadi salah satu pesan utama yang ditekankan Dikdik kepada mahasiswa baru.

Menurutnya, ilmu, akhlak, kreativitas, inovasi, kemandirian, dan kepemimpinan pada akhirnya harus memberikan dampak nyata.

“Akhlak dan hasil kerja tidak akan bermakna jika tidak memberikan manfaat nyata bagi orang lain,” tandasnya.

Ia juga menegaskan, manfaat yang diberikan kepada orang lain harus menjadi perhatian utama mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya.

“Manfaat yang diberikan lebih penting dibandingkan dengan kreasi atau inovasi apa pun yang dihasilkan,” tegas Dikdik.

Menurutnya, hal tersebut semakin relevan di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan yang terus mengubah berbagai aspek kehidupan.

Mahasiswa tidak hanya perlu mampu mengikuti perubahan, tetapi memastikan ilmu dan teknologi yang dikuasai memberikan dampak positif.

Oleh karena itu, perjalanan mahasiswa UM Bandung diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik.

Kampus harus menjadi ruang untuk membentuk pribadi yang berakhlak, mandiri, mampu memimpin, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.***(FK/FA)

Exit mobile version