Kabar  

Direktur DEEP: Kritik di Media Sosial Jangan Berhenti pada Viralitas

KABARINDAH.COM, Bandung — Perkembangan ruang digital dan media sosial telah mengubah cara masyarakat menyampaikan pendapat, membangun diskursus publik, dan merespons berbagai persoalan sosial.

Namun, derasnya arus informasi juga menghadirkan tantangan ketika partisipasi publik lebih banyak dipengaruhi tren dan Fear of Missing Out (FOMO) daripada pemahaman yang mendalam.

Direktur Democracy and Electoral Integrity Program (DEEP) Indonesia Neni Nur Hayati mengatakan generasi muda, khususnya mahasiswa dan Gen Z, perlu mengambil peran sebagai pembentuk narasi di ruang digital, bukan sekadar mengikuti arus algoritma.

“Di tengah tantangan hari ini, kita hanya punya dua pilihan, apakah manusia dikendalikan oleh algoritma atau algoritma yang dikendalikan oleh manusia? Nah, narasi itu sebetulnya ada di tangan anak-anak Gen Z,” ujar Neni saat mengisi kegiatan Pesonamu UM Bandung 2026.

Menurut Neni, kemampuan membangun narasi di ruang digital harus ditopang literasi yang kuat. Generasi muda tidak cukup hanya cepat menerima dan membagikan informasi.

Namun, perlu membiasakan diri membaca secara mendalam, memeriksa sumber, memahami konteks, serta membedakan fakta, opini, dan informasi yang menyesatkan.

Tantangan tersebut semakin kompleks seiring perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), termasuk teknologi deepfake.

Kemudahan memproduksi dan menyebarkan informasi secara instan dapat meningkatkan risiko disinformasi apabila tidak diimbangi kemampuan berpikir kritis dan kebiasaan melakukan verifikasi.

“Kemudahan memperoleh dan memproduksi informasi secara instan dapat membuat masyarakat semakin rentan terhadap disinformasi apabila tidak dibarengi kemampuan berpikir kritis dan verifikasi informasi,” tegas Neni.

Meski demikian, Neni menilai tingginya aktivitas Gen Z di media sosial juga memiliki potensi positif.

Ruang digital dapat menjadi sarana untuk mendorong perubahan sosial, mengangkat persoalan publik, sekaligus meningkatkan perhatian institusi terhadap isu yang berkembang di masyarakat.

Fenomena intermedia agenda setting menjadi salah satu gambaran bagaimana isu yang muncul di media sosial dapat memperoleh perhatian lebih luas dan mendorong institusi terkait memberikan respons.

Penggunaan tagar seperti “no viral, no justice” menunjukkan besarnya pengaruh ruang digital dalam membentuk perhatian publik terhadap suatu persoalan.

Namun, Neni mengingatkan agar kekuatan tersebut tidak berhenti pada pencapaian viralitas.

Kritik di media sosial perlu diarahkan pada pembahasan yang lebih substantif dan mendorong penyelesaian persoalan berdasarkan informasi yang benar serta pemahaman yang memadai.

Oleh karena itu, Neni mendorong mahasiswa dan generasi muda untuk tidak takut menyampaikan kritik terhadap kebijakan publik.

Keberanian bersuara, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan literasi, etika, moralitas, dan pemahaman terhadap persoalan yang dibicarakan.

Neni juga menekankan bahwa kebebasan berpendapat di ruang digital tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab.

Demokrasi yang sehat tidak hanya membutuhkan keberanian menyampaikan gagasan. Namun, budaya percakapan yang menghargai perbedaan dan menjaga keadaban.

“Proses diskursus publik untuk demokrasi yang sehat itu tercipta ketika iklim percakapan di media sosial betul-betul beretika dan beradab. Online itu seharusnya menjadi kepanjangan yang lurus dari etika kita di kehidupan nyata,” jelasnya.

Ia berharap perguruan tinggi, termasuk Universitas Muhammadiyah Bandung, terus menjadi ruang pendidikan yang membangun kompas moral generasi muda.

Kampus tidak hanya bertugas meningkatkan kemampuan akademik. Namun, perlu menyediakan ruang diskusi yang sehat untuk menguji informasi, membedah persoalan publik, dan melatih mahasiswa menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

Menurut Neni, kemampuan tersebut semakin penting karena lingkungan digital bergerak sangat cepat.

Mahasiswa perlu membangun kebiasaan untuk tidak langsung mempercayai informasi yang muncul di lini masa.

Namun, memeriksa sumber dan konteks sebelum mengambil kesimpulan maupun menyebarkannya kepada publik.

“Saya percaya iklim dan organisasi di perguruan tinggi mampu menghadirkan inovasi serta kreativitas dengan tetap mengedepankan etika, moralitas, dan keadaban demi membangun peradaban bangsa yang lebih baik,” pungkas Neni.***(Hikma/Althof/Fauzan)

Exit mobile version