KABARINDAH.COM, Bandung — Muhammadiyah perlu menempatkan agama sebagai kekuatan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan zaman.
Agama tidak cukup hanya dipertahankan dalam ruang normatif, tetapi harus hadir sebagai solusi atas persoalan masyarakat.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad menyampaikan pandangan tersebut saat meluncurkan bukunya yang berjudul “Muhammadiyah dan Masa Depan Agama” di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Senin (05/10/2026).
Buku yang diterbitkan Suara Muhammadiyah itu merupakan refleksi Dadang selama puluhan tahun berkecimpung di persyarikatan Muhammadiyah sekaligus sebagai akademisi bidang sosiologi agama.
Dadang mengatakan, sebagaimana ditulis dalam buku tersebut, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu memunculkan pertanyaan tentang masa depan agama.
Pertanyaan itu muncul sejak era positivisme, revolusi industri, teknologi informasi, hingga perkembangan kecerdasan buatan atau AI saat ini.
Menurutnya, setidaknya ada tiga kelompok dalam merespons modernisasi, sains, dan teknologi.
Pertama, kelompok yang menolak modernisasi dan memilih mempertahankan kehidupan dalam ortodoksi. Mereka cenderung menarik diri dari perkembangan zaman dan tidak beradaptasi dengan perubahan.
Kedua, kelompok yang larut dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga semakin menjauh dari agama. Menurut Dadang, fenomena agnostisisme dan ateisme menjadi salah satu contohnya.
Ketiga, kelompok yang mampu beradaptasi. Kelompok ini tetap kuat dalam prinsip agama, tetapi terbuka terhadap perkembangan zaman dan memanfaatkan teknologi untuk kemajuan kehidupan.
“Ortodoksi dalam ibadah, tetapi kuat dan maju dalam muamalah. Teknologi, AI, dan berbagai kecanggihan zaman dimanfaatkan untuk kemajuan agama. Islam berkemajuan relevan dengan posisi ini,” ujar Dadang.
Ia menilai posisi tersebut sejalan dengan karakter Muhammadiyah yang tetap berpegang pada prinsip keagamaan, sekaligus mendorong kemajuan dalam kehidupan sosial.
Dadang mengatakan, buku tersebut lahir dari pengalaman panjangnya sebagai warga Muhammadiyah dan pengajar.
Ia aktif di Muhammadiyah sejak 1980-an, mulai dari tingkat ranting hingga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menilai buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Menurut Herry, buku tersebut mengajak pembaca merenungkan kembali posisi agama, Islam, dan Muhammadiyah dalam menghadapi masa depan yang ditandai perkembangan teknologi digital yang semakin masif.
Dia mengatakan persyarikatan Muhammadiyah memiliki peran yang sangat penting untuk terus menghadirkan pencerahan, pembaruan, dan kemajuan.
Hal itu juga tercermin dalam pembahasan buku karya Dadang Kahmad ini yang menyentuh persoalan lingkungan, pendidikan, dan tantangan teknologi digital.
Acara tersebut dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad beserta keluarga, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas, Ketua PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini, dan Rektor Uhamka Jakarta Gunawan Suryoputro.
Hadir pula Ketua PWM Jawa Barat Ahmad Dahlan beserta jajaran pleno PWM Jawa Barat, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah Azrul Tanjung, dan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ujung Berung Tatang Zakaria.
Hadir anggota Dewan Pendidikan Nasional (DPN) Tiar Anwar Bachtiar, Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Muchlas Rowi. Dari kalangan perguruan tinggi, hadir Rektor UAD Muchlas, Rektor UMMI Reny Sukmawani, Rektor UM Kuningan, dan Ketua Stikes Muhammadiyah Ciamis.
Turut hadir Ketua Senat UIN Sunan Gunung Djati Bandung Mahmud, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rosihon Anwar, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ahmad Sarbini, Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung Wahyudin Darmalaksana dan para kolega dosen.
Hadir pula para pimpinan organisasi otonom Muhammadiyah Jawa Barat serta pimpinan majelis dan lembaga PWM Jawa Barat.***(FA)
