Cuaca Ekstrem Dominasi Bencana di Sukabumi, Kerugian Capai Rp 3,2 Miliar Sepanjang Januari 2026

KABARINDAH.COM, Sukabumi— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi mencatat sebanyak 44 kejadian bencana terjadi sepanjang Januari 2026. Data tersebut dihimpun melalui Sistem Informasi Elektronik Data Bencana (SiEdan) dan tersebar di tujuh kecamatan di wilayah Kota Sukabumi.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Yoseph Sabaruddin, menyebutkan bahwa dari seluruh kejadian tersebut, cuaca ekstrem menjadi bencana yang paling mendominasi, yakni sebanyak 40 kejadian, disusul kebakaran permukiman sebanyak empat kejadian.

“Secara agregat, total kerugian akibat bencana pada Januari 2026 diperkirakan mencapai Rp 3,277 miliar, dengan luas area terdampak sekitar 2,178 hektare,” kata Yoseph, Kamis (6/2/2026). Akibat rangkaian bencana itu, sebanyak 31 kepala keluarga terdampak dengan total 60 jiwa.

Selain itu, tercatat 36 unit bangunan mengalami kerusakan, terdiri atas 5 unit rusak berat, 6 unit rusak sedang, dan 25 unit rusak ringan. Kerugian Terbesar dari Kebakaran Permukiman.

Meski frekuensinya lebih rendah, kebakaran permukiman menyumbang nilai kerugian terbesar, yakni sekitar Rp 2,114 miliar dengan luas area terdampak 1.403 meter persegi.

Sementara itu, bencana cuaca ekstrem menimbulkan kerugian sekitar Rp 1,162 miliar dengan area terdampak 775 meter persegi.

Dari sisi wilayah, Kecamatan Gunung Puyuh dan Kecamatan Lembursitu tercatat sebagai daerah dengan kejadian terbanyak, masing-masing delapan kejadian. Disusul Kecamatan Warudoyong (tujuh kejadian), Baros, Cibeureum, dan Cikole (masing-masing enam kejadian), serta Citamiang (tiga kejadian).

Kecamatan Baros menjadi wilayah dengan nilai kerugian tertinggi, mencapai sekitar Rp 1,44 miliar, sementara Citamiang mencatat nilai kerugian terendah, yakni sekitar Rp 31,5 juta.

Pengaruh La Nina Lemah

Yoseph menjelaskan, tingginya kejadian cuaca ekstrem pada Januari dipengaruhi oleh kondisi iklim global. Berdasarkan analisis Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Indeks Dipole Mode (IOD) berada pada fase netral, sedangkan fenomena La Nina lemah masih aktif dan diprediksi bertahan hingga awal 2026.

“Selain itu, peringatan dini curah hujan tinggi juga diberlakukan pada Dasarian III Januari 2026 untuk sejumlah wilayah di Jawa Barat dengan status waspada hingga siaga,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi dan penanganan, BPBD Kota Sukabumi telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana melalui Surat Keputusan Wali Kota Sukabumi yang berlaku hingga 30 April 2026. BPBD juga menggelar Posko Kolaborasi Aksi Siaga Bencana selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 bersama TNI, Polri, serta komunitas kemanusiaan.

Selain itu, bantuan logistik telah disalurkan kepada warga terdampak, baik dari BNPB, BPBD Provinsi Jawa Barat, BPBD Kota Sukabumi, maupun sumber CSR, berupa paket sembako, selimut, matras, hingga bahan bangunan.

“Upaya penanggulangan terus kami lakukan, mulai dari prabencana, saat tanggap darurat, hingga pascabencana, termasuk koordinasi lintas sektor untuk meminimalkan risiko bencana ke depan,” kata Yoseph.

Exit mobile version