Kabar  

Busana Tidak Hanya Menutupi Tubuh, Tapi Mencerminkan Jati Diri

KABARINDAH.COM, Bandung – Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Irianti Usman menegaskan bahwa busana tidak sekadar berfungsi sebagai penunjang penampilan.

Namun, menjadi medium komunikasi yang merepresentasikan identitas, karakter, dan nilai yang dimiliki seseorang.

Pandangan tersebut ia sampaikan saat memberikan sambutan dalam pameran Kain & Kebaya IBU #3 yang diselenggarakan Program Studi Kriya Tekstil & Fashion bekerja sama dengan Yayasan Batik Jawa Barat dan Pusat Studi Wastra Nusantara UM Bandung pada Rabu (20/05/2026).

Pameran tersebut digelar sebagai ruang penghormatan terhadap jejak budaya, ingatan, serta kasih perempuan Nusantara yang terpatri melalui kain dan kebaya.

Dalam kesempatan itu, Irianti mengajak peserta melihat keindahan tidak semata dari aspek visual, tetapi dari pesan dan makna yang terkandung di dalamnya.

Ia mencontohkan sebuah konten di media sosial milik selebritas Okky Asokawati yang menurutnya memberikan sudut pandang menarik mengenai cara seseorang menampilkan diri di ruang publik.

Menurut Irianti, yang penting bukan hanya busana yang dikenakan, tetapi pesan yang disampaikan melalui penampilan tersebut.

“Saya melihat konten Okky Asokawati di media sosial dengan busananya yang sangat bagus. Namun bagi saya, ini bukan soal busananya, melainkan apa yang dia katakan. Dia mengatakan bahwa ketika seseorang berpakaian indah, tampil indah, dan berada di lingkungan yang indah, sesungguhnya dia sedang berkomunikasi kepada semua orang tentang siapa dirinya,” ujar Irianti.

Menurutnya, setiap pilihan pakaian pada dasarnya merupakan representasi diri yang menyampaikan pesan tertentu kepada orang lain.

Cara seseorang berpakaian, kata dia, secara tidak langsung memperlihatkan bagaimana ia memandang dirinya dan nilai yang ingin ditampilkan kepada lingkungan sekitar.

“Ketika kita berpakaian seperti apa yang kita kenakan saat ini, sejatinya kita sedang mengatakan, ‘Saya orangnya seperti ini, lho’,” katanya.

Lebih lanjut, Irianti menyoroti anggapan yang menyebut seni, kriya, tekstil, dan fashion sebagai bidang yang bersifat value free atau bebas nilai.

Ia menilai pandangan tersebut kurang tepat karena seni justru dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan keyakinan dan sistem nilai yang dianut manusia.

“Kalau ada yang mengatakan bahwa ilmu seni, kriya, tekstil, dan fashion itu value free, menurut saya itu keliru. Karena melalui seni, kita juga bisa menunjukkan siapa Tuhan kita. Tuhan kita yang indah dan menyukai keindahan,” pungkasnya.***

Exit mobile version