Pojok  

Bersiaplah Ketika Memasuki Usia Tua

Oleh Dr. Budi Santoso
Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

 

Panjang umur, itu menyusahkan atau menggembirakan?

Dikutip dari buku Alex Ross, usia harapan hidup di Jepang sekarang ini adalah 80 tahun pria dan 87 tahun untuk wanita. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 84 tahun untuk pria dan 91 tahun untuk wanita dalam 45 tahun ke depan.

Diperkirakan di masa depan akan banyak pasangan, janda, duda atau bujangan tua. Bisa jadi banyak yang jompo, dan butuh pengasuhan.

Dengan tuntutan gaya hidup modern, diperkirakan orang tua jompo akan “kleleran”, karena anak cucunya sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Terus siapa yang mengurusnya?

Baca Juga:  10 Rukun Wajib Syarat Sah Artikel untuk Publikasi di Jurnal Ilmiah

Usia 90 tahun, menikah umur 25 memiliki anak umur 27, memiliki cucu usia 55, dan memiliki buyut usia 80-an. Meskipun anak cucu dan cicitnya “segudang”, tetapi masing-masing sibuk “merenda” atau merajut masa depannya masing-masing. Selain itu, jumlah anak, cucu buyut yang dimiliki diperkirakan tidak akan cukup “ngopeni” engkong atau obasan atau ojisannya. Anak, cucu, buyut sibuk dengan dunianya.

Untuk negara Jepang yang kaya mungkin tidak begitu masalah, karena mampu membayar perawat lansia, dan dapat diimpor perawat lansia dari negara lain. Namun kalau di Indonesia, saya tidak tahu ke depan mau seperti apa nasib lansia.

Bagi Anda yang belum lansia, bersiaplah ketika memasuki usia tua. Karena pilihannya kita bisa mati lebih dini, sebagai pilihan yang tidak mengenakan, karena “keleran” tidak diurus anak cucunya.

Baca Juga:  Pandemi, Lost Civilization, dan Nasib Generasi Penerus Kita

Dalam kenyataannya, justru sebaliknya, kita melihat banyak orang tua di hari tuanya malah dititipi atau “diambrukin” cucu, yang tidak terurus ortunya karena sibuk bekerja. Sepertinya peristiwa ini mengingatkan pepatah, kasih ortu sepanjang hayat, dengan demikian mumpung belum mati, seolah-olah diperas habis kasih sayangnya oleh anak cucunya.

Dan para ortu tetap saja, meski “terpaksa”, melaksanakannya dengan hati nelangsa, dikerjakan juga.

Namun dalam kepenatannya, sering juga terdengar celetukan, sudah urus mamaknya urus pula anaknya, kapan mau beristirahat?

Bagi lansia, suara dan canda cucu memang sangat sangat membahagiakan. Seperti bunyi kicauan perkutut kesayangan, namun kalau disuruh ngurus cucu setiap hari sepertinya sudah kepayahan.

Baca Juga:  Rumah Ibadah, UIN Bandung dan Ekosistem Taman Cinta Masjid

Kata siapa lansia tidak berguna?