Belajar Agama Penuh Cinta, Kasih, dan Sayang

  • Bagikan

DRS. H. IDAT MUSTARI, SH, Sekretaris Dewan Pembina LSM GMBI, serta Pemerhati Sosial dan Agama

KABARINDAH.COM – Indonesia berduka. Pasalnya, ledakan bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar masih diinisiasi doktrin radikalisme dan terorisme atas nama agama.

Menurut mantan teroris yang insyaf, Ali Imran dalam sebuah diskusi, dia mengatakan, “Bahwa sikap atau perilaku intoleran, radikal dikarenakan salah pemahaman dan salah memahami ajaran Islam. Kesalahan tersebut misalnya, doktrin yang mengatakan “salah satu cara yang bisa menghapus dosa dan meraih surga adalah dengan mati syahid. Salah satu cara mati syahid dengan melakukan bom bunuh diri (Pengantin).”

Oleh karena itu berpikir dan bersikap inteloran, atau bertindak radikal yang berujung menjadi seorang ekstremis dan teroris akan terus ada dan akan semakin meningkat di negeri ini jika tidak dikikis habis. Sebab, akar masalahnya, yakni kesalahan memahami dan memaknai ajaran Islam, yang seharusnya mencerminkan rahmat bagi semesta alam.

Kalau masih bebas berdiri organisasi yang radikal, menyalahkan dan menyesatkan pemahaman keislaman orang lain; disitulah ekstremis dan teroris tumbuh subur.

Kasus bom bunuh diri yang dilakukan oleh M. Syarif pada tahun 2011 di masjid Mapolresta Cirebon, menunjukkan bahwa pelaku sebelumnya aktif dalam Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (GAPAS) yang eksis di tengah masyarakat Cirebon. M. Syarif kemudian direkrut oleh jaringan lama dari sebuah kelompok radikal untuk tujuan menerapkan pola dan strategi baru yang dikenal dengan istilah “istighlayat”, yakni serangan dalam skala kecil dan bersifat independen dari kelompok radikal yang lebih besar (Asrori, 2017).

M. Syarif sang pelaku bom bunuh diri salah berguru, salah belajar, ditambah persoalan sosial seperti persoalan-persoalan struktur, kemiskinan, pengangguran dan keterbelakangan semakin menghimpit kehidupan mereka (Bagir, 2018).

Ujaran-ujaran kebencian yang dilapisi oleh ayat-ayat Alquran dan hadits yang semakin berseliweran di media sosial tak akan mempengaruhi orang yang sudah benar belajar memahami ajaran Islam. Sebab Inti dari Ajaran islam adalah cinta, dan teloransi.

Kezhaliman

Bom bunuh diri ialah salah satu daripada bentuk kezhaliman. Zhalim berasal dari bahasa Arab yang artinya “gelap”. Jadi, orang yang melakukan bom bunuh diri telah berbuat zhalim, karena ia sedang berada dalam kegelapan atau sedang berbuat dosa akibat salah kaprah pemahaman.

Ada kezhaliman yang diampuni Allah dan kezhaliman yang tak akan dibiarkan oleh Allah.

Kezhaliman yg diampuni Allah adalah kezhaliman yang tidak merugikan orang lain. Misalnya, saya mengaku sedang puasa padahal tidak. Mengaku sudah shalat padahal belum. Cukup dengan istighfar maka kezhaliman seperti ini akan Allah ampuni.

Sedangkan kezhaliman yang tak akan dibiarkan Allah adalah kezhaliman yang merugikan harkat, martabat, materi, dan nyawa orang lain. Kezhaliman ini tak akan dibiarkan oleh Allah. Dia (Allah) akan meminta kepada orang yang berbuat zhalim untuk mengembalikan hak-hak orang yang dizhaliminya di akhirat.

Maka berbahagialah kepada siapapun yang bisa berjuang meluruskan dengan adil agar si penzhalim untuk mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi selama di dunia. Karena menegakkan keadilan adalah perintah Allah.

Kepada Allah kita memohon perlindungan agar tidak dizhalimi dan berbuat zhalim. Nah, agar hal itu dapat mewujud menjadi kenyataan, benahi dulu dong pemahaman keislaman kita. Jangan mentang-mentang mayoritas kita memahami Islam sebagai doktrin yang keras, kakuk, dan intoleran terhadap keberbedaan di negara Indonesia ini.

Saya bersimpulan, bahwa pelaku bom bunuh diri telah melakukan kezhaliman yang tidak akan dibiarkan Allh Swt. Tindakan barbar-nya meledakkan diri akan membawanya ke dalam jilat api neraka. Sebab, dengan bom bunuh diri ada banyak harkat, martabat, materi, dan nyawa sesama anak manusia yang hk-haknya dizhalimi.

  • Bagikan